Kejujuran Sepanas Batubara

Ternyata jujur itu berat ya.

Ayahku bekerja di dunia proyek. Sebagai seorang tenaga ahli yang terlibat di bidang PJU (penerangan jalan umum), ayahku juga sering turun ke lapangan.

Di lapangan, realita lebih kejam dari idealisme. Banyak penyimpangan dana berkedok "administrasi" sehingga proyek yang seharusnya bisa berjalan dengan dana yang efisien membengkak untuk memenuhi "administrasi", "biaya pengondisian", dan lainnya.

Hari ini saya baru baca satu artikel eksklusif dari surat kabar online, Kompas. Judulnya "Penyelewengan Bantuan Kuliah yang Tak Berujung Pidana Korupsi". Artikel itu memaparkan, ada indikasi/dugaan penyelewengan dana KIP Kuliah dari tahun 2019–2021 di kampus swasta.

Ketika membaca artikel itu, dadaku terasa sesak. Hatiku seakan diremas begitu kuat sampai membuatku meringis. Pemungutan liar ternyata begitu merambah ke seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam kasus ini, yang menjadi korban justru adalah mahasiswa miskin. Ya, KIP yang seharusnya berada di tangan yang layak, dirampas oleh kampus dengan dalih "biaya administrasi" dan biaya biaya omong kosong lainnya.

Di sisi lain, aku bisa memahami bahwa kampus swasta butuh uang. Butuh uang untuk merawat fasilitas, membayar gaji dosen, dan kegiatan-kegiatan yang tak murah. Namun, apakah sebutuh itu sampai harus merenggut yang bukan hak mereka?

Aku teringat kembali dengan buku antologi antikorupsi yang kubaca, yang ditulis oleh Gol A Gong dan kawan-kawan. Salah satu cerita yang kubaca adalah tentang anak sma yang menjadi bendahara kas kelasnya. Inti dari cerita tersrbut adalah, dia meminjam uang kas tanpa izin karena ada kebutuhan yang harus dia bayar.

Sorenya, aku mengobrol dengan mamah tentang artikel kompas yang aku baca. "Wah kak, jangankan di kuliahan. Di tahap RT RW aja banyak kejadian uang dipotong dengan dalih administrasi". Mamah lalu menceritakan tentang Bibi Nung, yang dulu menjadi pembantu di rumah kami.

Bi Nung seharusnya mendapatkan uang bantuan dari pemerintah untuk kebutuhan keluarganya. Bantuan itu bisa diambil di RT tempat tinggalnya. Namun, Bi Nung hanya diminta untuk menanda tangan dokumen, dan RT hanya memberikan uang 50 ribu rupiah kepadanya. Tragis, bukan?

Menjadi jujur itu berat. Bagaikan memegang bara api. Aku khawatir, dengan cerita-cerita itu aku menjadi pelaku berikutnya.

Apakah negara ini mampu mencabut ketidakjujuran yang telah mengakar? Semoga Allah kuatkan kami agar tetap berdiri di jalan yang lurus dan memegang kejujuran walaupun sakit membara.