Jiwa Bisnisku Bertunas


 

Di awal bulan Februari, aku genap berusia 20 tahun. Akhirnya aku masuk kepala dua dan merasa sudah tua ahaha. Di usia ini, aku mulai berpikir tentang satu hal yang sebelumnya tidak terlalu kupikirkan: bagaimana caranya mencari uang.

Aku adalah anak homeschooling dan secara akademis saat ini masih kelas 12. Menjelang UTBK, aku dan teman-teman mulai serius mempersiapkan diri. Beberapa bulan terakhir kami ikut try out dan belajar mandiri. Setelah fase ini, tentu ada fase kuliah. Dan di masa kuliah nanti, rasanya aku akan membutuhkan uang. Peduli terhadap uang adalah hal baru yang muncul di diriku.

Skeptisme terhadap Uang

Waktu kecil, aku tidak terlalu tertarik dengan uang, bahkan cenderung skeptis. Uang bukan sesuatu yang menarik bagiku. Di usia sekitar 16 tahun, aku sering berdiskusi dengan orang tua tentang menghasilkan uang. Di keluargaku tidak ada kewajiban untuk mencari uang. Yang penting belajar dengan baik. Ya, aku terlahir di keluarga yang cukup. Namun, kami juga pernah melewati fase di ekonomi terbawah dan kembali lagi ke perasaan cukup.

Selain itu, orang tua selalu menjelaskan bahwa nilai uang itu palsu, sebuah permainan. Nilai yang asli ada di emas dan perak, logam mulia yang dari dulu sampai sekarang terus bernilai. Karena itu, pandanganku terhadap uang cukup dingin. Karena jarang jajan, Aku tidak terlalu merasa butuh uang.

Namun semakin bertambah usia, semakin banyak informasi dan pengalaman baru yang datang. Mulai merasa kalau caraku memahami pesan orang tua itu salah. Walaupun aku tetap percaya bahwa uang bukan segalanya, nilainya adalah permainan, ada satu kalimat yang terasa relevan: uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi hampir semua hal butuh uang.

Perasaan ngeh (baca: menyadari) itu muncul ketika aku membeli domain website ini, membayar langganan provider blog, dan membeli kebutuhan. Semakin sadar ketika aku menjadi bendahara. Aku melihat dan merasakan bagaimana adanya uang dan tidak itu mempengaruhi suasana hati. Uang memberikan dampak ketenangan, karena yakin semua kebutuhan bisa teratasi dengan uang yang cukup. Dari situ mulai muncul pikiran: Aku tertarik untuk belajar mencari uang.

Tiga Alasan Menghindari Bisnis

Selain karena skeptis terhadap uang, dulu aku juga takut rugi. Cara mencari uang sebenarnya banyak: bekerja, bisnis, investasi. Dulu yang terpikir adalah bekerja, tapi itu berarti harus lulus sekolah dulu, kuliah dulu, baru kerja. Jadinya tidak ada pergerakan. Aku sempat terpikir untuk melakukan bisnis, tetapi aku punya tiga alasan yang menghambat hal itu:
1.    Takut rugi
2.    Tidak punya skill
3.    Tidak punya modal

1. Takut Rugi

Saat berjualan, kalau untung rasanya senang sekali. Tapi kalau tidak laku, otomatis rugi. Barang menumpuk, tidak ada yang beli. Dulu aku merasa kalau jualan tidak laku itu seperti sesuatu yang jelek. Pikiran tentang rugi itu membuatku tidak bergerak.

2. Tidak Punya Skill

Aku senang ngobrol, tapi ketika harus menjual sesuatu rasanya grogi. Aku merasa tidak punya kemampuan selling. Ada seorang adikku yang bisa menjual barang hasil kreasinya. Sepertinya dia punya skil yang baik untuk itu, sedangkan aku merasa tidak ada skil sama sekali.

3. Tidak Punya Modal

Sebagai anak dengan uang jajan terbatas dan jarang jajan, aku memang tidak menyimpan uang. Yang aku tahu, bisnis butuh modal besar. Jadi kalau tidak punya uang, rasanya tidak mungkin bisa memulai bisnis.

Sudut Pandang yang Berubah

Di usia 20 ini, perlahan jiwa bisnisku mulai bertunas. Prosesnya panjang. Banyak diskusi dengan orang tua, dipupuk pelan-pelan, diberi pandangan yang diulang-ulang. Sekarang mulai terasa masuk akal.

Untuk menjawab rasa takut rugi, ayahku sering mengutip perkataan Bob Sadino. Ia pernah berkata bahwa orang jualan biasanya cari untung, sedangkan dia cari rugi. Kenapa? Karena orang yang cari untung saja bisa rugi. Masa yang cari rugi tidak bisa untung?

Dulu kalimat itu terdengar aneh. Sekarang mulai masuk akal. Kita sering terpaku bahwa bisnis harus untung. Karena takut rugi, akhirnya tidak jalan. Padahal dalam bisnis memang ada untung dan ada rugi. Sekarang aku mulai berani mencoba. Target awalku sederhana: coba saja dulu, toh aku mencari rugi.

Untuk alasan tidak punya skill, ternyata banyak bisnis yang tidak menuntut skill tinggi. Di era online shop, orang bisa jualan lewat website atau HP. Bisa reselling barang atau jasa. Kalau memang punya skill video editing tapi belum yakin, itu bisa diasah. Atau mulai dari reselling yang paling sederhana.

Untuk alasan tidak punya modal, sekarang semakin jelas bahwa ada banyak bisnis yang bisa dimulai tanpa modal uang besar, bahkan bisa nol rupiah. Modalnya lebih ke kemauan dan keberanian mencoba.

Langkah Bayi

Sekarang aku mulai mencoba bisnis kecil-kecilan. Aku mencoba reselling langganan aplikasi seperti CapCut, Canva, dan Zoom. Bisa saja rugi, dan memang dari awal aku sudah siap dengan kemungkinan itu. 

Namun, poin terpenting bukan pada bisnisnya. Yang paling terasa adalah perubahan dalam diriku. Dulu anti terhadap bisnis, sekarang mulai terbuka. Dulu sangat skeptis terhadap uang, sekarang tetap sadar bahwa uang bukan tujuan akhir, tapi tetap dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, kalau nanti ada hasil, ingin kukumpulkan dan akan dikonversi ke emas untuk menyimpan nilai uang itu.

Pelajaran Penting

Pelajaran terpenting dari semua ini ada dua:

Pertama, jangan biarkan rasa takut rugi membuat kita tidak bergerak. Kedua, sudut pandang bisa berubah seiring waktu dan kedewasaan.

Dari kalian, adakah hal yang dulu tidak kalian sukai, tapi sekarang mulai tumbuh tunasnya dan justru ingin kalian perjuangkan?