“pohon menyerap lewat akar dan diproduksi di daun. Produksi
didaun itu dinamakan fotosintesis” Guru menjelaskan ulang secara lebih singkat.
“fotosintesis itu dialirkan ke seluruh tanaman. Nah, tugas kalian adalah
membuat cerita karangan yang bertema ‘Pohon’” “batas pengumpulan hari jum’at.
jumlah kata terserah, tetapi lebih baik kalau dua halaman” “segitu pelajaran
hari ini. Tutup kelas”. Setelah penutupan kelas, dia keluar dari kelas,
buru-buru ingin pulang. Dia melihat kearah kiri dan kanan, menunggu grab yang
dipesan. Beberapa lama kemudian Grab pun datang. “Ri! Nanti sore, jangan lupa
ya!” teriak Toto kepada Dia. Oh iya, perkenalkan, namannya Ari. Orang yang
polos dengan wajah tidak berdosa, ya, itu Ari. Grab pun melaju dengan kecepatan
rata-rata---tidak cepat, tidak juga lambat. Sesampainya dirumah, Ari
langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Dia memikirkan hal itu. Ari berusaha
keras untuk membuat pilihan, tetapi masih juga kosong. “Tidur saja dulu, siapa
tahu dapat Ilham”, dan tidurlah Ari.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar!”, Adzan Ashar berkumandang. Ari
segera terbangun. Beberapa saat kemudian nyawanya sudah benar-benar berkumpul.
Dengan pelan-pelan dia berwudhu. “qodko matisholah, qodko matisholah”,
mengetahui sudah Qomat, setelah wudhunya selesai Ari langsung ngabrit ke Masjid. Untungnya, dia hanya
telat takbir-nya saja, tidak sampai telat rokaat. Selesai sholat langsung balik
kerumah. Ari segera mengganti baju Koko-nya dengan baju biasa. “Mah! Aku main
dulu ya!” kata Ari sambil berjalan keluar. “Iya! Tapi maghrib pulang ya!” jawab
ibunya.
Dia tidak pergi ke lapangan seperti biasanya. Dia pergi
ketempat yang sudah mereka---Toto dan Ari---diskusikan. "Eh,
akhirnya datang juga. Aku menunggumu sejak sore. Kau sudah lupa dengan
janjimu ya?" tanya Toto. “Enggak kok aku masih ingat.
Aku telat karena sholat Ashar dulu. Kamu sudah sholat belum?” tanya Ari.
“Belum” jawab Toto. “Sholat dulu atuh
jang!” “ah, nanti aja” kata Toto. Ari sebal dengan nyelenehan Toto. “Nah, ketahuan! Jangan suka menanti-nanti Sholat
To” “Kenapa hubungannya jadi ke Sholat?” “Karena Sholat tiang agama, To” “Lha?
Memang masalahmu? Terus bagaimana dengan
rencana kita, Ri?” “Sholat dulu. Atau enggak aku tidak akan dengar”. Dengan
jengkel, Toto-pun ke Masjid, dan sholat---meskipun ngebut. “sudah
selesai, puas?” kata Toto, Ari tersenyum menyebalkan, “ya, puas”. Toto langsung
to the point “Gimana? Jadi gak?”, senyum Ari langsung menghilang. “Belum
tahu” gumam Ari. “Ya ampun! Sudah kita bicarakan hal ini jauh-jauh tapi kamu
juga masih belum memutuskan?” kata Toto dengan heran. “Soalnya… aku takut”,
Toto jadi gemas, “Gak perlu takut Ri, orang cuman sedikit” “tapi…””gak ada
‘tapi-tapi’. Ini menyenangkan, kujamin” potong Toto. Dengan berat hati Ari-pun
menyetujui. Toto tersenyum lebar “tuh
kan, aku jamin ini akan menyenangkan”. Toto menyodorkan dua buah permen
kepada Ari. “Jadi ini yang katamu menyenangkan?”, Toto mengangguk, “iya, sekali
kamu makan, itu akan membuatmu happy
selama se-jam”. Ari memperhatikan permen itu, bentuknya kepala panda yang lucu,
warnanya cerah. Ari merasa bodoh, kenapa aku mau makan permen ini? Memangnya,
apa sih yang bikin Happy dari makan
permen ini? Pikir Ari dengan kesal. Tanpa banyak tanya, Ari langsung memakan
permen itu. “Gak ada efek apa-apa” kata Ari dengan muram, “Kamu bohong”. “Eh?
Kata siapa aku bohong? Bener kok!” jawab Toto tersinggung. “Aku tidak meras…”
seketika pemandangan berubah menjadi warna-warni. Ari merasa terbang sangat
tinggi sampai keluar bumi, Dia juga merasa sangat bahagia. Toto merasa puas
atas reaksi tersebut. “itu adalah permen spesial yang bisa membuatmu bahagia. Aku
membeli permen itu dari teman. Harganya murah, 500 rupiah”. Karena Ari masih “Bahagia”,
penjelasan itu terdengar sayup-sayup. Setelah satu jam berlalu, Ari kembali
sadar. “Benar To! Bisa bikin bahagia” kata Ari gembira. Toto hanya tersenyum. “Harga
permennya berapaan?”
seminggu telah terlewati. Tak terasa, Ari dan Toto sering
sekali memakan permen tersebut. Temannya, yang menjual permen itu, menaikkan
harganya menjadi 2000-an. Ari heran, tapi tetap membeli permen tersebut. pada
suatu hari, uang jajan Ari habis. “Aduh, badanku terasa sakit” keluh Ari. Orangtuanya
cemas dengan keadaan Ari. “Ri, kamu tidak apa-apa?” tanya Ibunya. “Gak tau,
badan Ari terasa sakit”. Hari-hari kembali berlalu. Ari kembali mendapatkan
uang jajannya. Tak tanggung-tanggung, Ari langsung membeli permen itu kembali. Kali
ini harganya keterlaluan, 5000. Kalau waktu itu tiga permen harganya 2000,
sekarang satu permen 5000-an. Ari dan Toto. Bagai sahabat neraka.
Hari ini, hari paling sial---atau mungkin beruntung---buat
mereka berdua. Toto bermain kerumahnya Ari. Sebagaimana biasa, mereka juga
ngobrol-ngobrol biasa. sampai pada akhirnya. “Eh, Ri, aku membawa permen ini
lagi” kata Toto sambil menunjukan permen itu. Ari sangat senang, dia setuju
dengan usul Toto untuk memakan permen itu. Karena pikiran mereka sudah kacau,
mereka langsung makan saja dikamarnya Ari. Bisa ditebak, mereka berdua kembali
merasa bahagia, warna-warni, dll. Tiba-tiba, “anak-anak, ayo m…” ibunya, yang
ketika itu sedang kekamar anaknya. Melihat kelakuan itu, seketika memerahlah
wajah san Ibu. mereka tidak menyangka anaknya akan melakukan hal-hal memalukan
didepan matanya sediri. Dimarahi habis-habisan oleh ibunya Ari. “Kalian
harusnya memiliki tanggung jawab yang baik. Kalian harusnya sudah bisa
membedakan hal yang baik dan yang buruk. Kalian memalukan. Tahukah kalian apa
yang kalian makan???” ibunya Ari berkata dengan geram. Mereka, Ari dan Toto,
tidak ada yang menjawab. “Yang kalian makan itu narkoba”. Seketika, wajah Ari
pucat. “Kami pergi ke ‘tempat asing’ tanpa mengonfirmasi” pikir Ari dengan
penuh penyesalan. Apa maksudnya “tempat asing”? maksudnya: mereka menjelajahi
sebuah hal bar, dsb. Tanpa menanyakan dulu kepada orangtua. Ari menyesal,
sangat menyesal. Dia menghabiskan waktu, uang, dan pikiran untuk melakukan hal
yang tidak-tidak.
Malam itu kami melamun. Beberapa hari ini adalah hari
terberat dalam hidupku dengan Toto. Tidak akan pernah kulupakan Apakah aku akan
terbangun dari tempat asing lainnya? Aku tidak tahu, yang pasti hari ini aku
berkomitmen untuk berubah.
Akhirnya, mereka berdua tobat. Mereka sadar, apa yang mereka
lakukan selama ini salah. Mereka sudah mengerti, mengapa kita tidak boleh
mengonsumsi Narkoba. Mereka tidak akan membuatt kesalahan yang sama. Tapi, ada
satu kesalahan yang dibuat oleh Ari, yang hanya kuceritakan diatas.
Ari, menyiapkan tas, seragam, dan perlatan yang lainnya. Setelah
selesai dia pamit kepada orangtuanya, menyalami orangtua, dan mencium
keningnya. Setelah itu dia berangkat. Ketika sampai disana, kelas sudah penuh. Singkat
cerita, pelajaran-pun dibuka. Ari memikirkan kejadian yang lalu, dia senang
sudah bisa meninggalkannya. Satu jam kemudian, pelajaranpun selesai. Ketika sang
guru mau keluar kelas, guru itu terdiam. Guru langsing memandang kami semua. “Anak-anak,
karangan yang bertema ‘Pohon’ dikumpulkan hari ini”. Ari terkejut. “A…pa?”