Gak bisa pulang dari Jogja!


Ini asli. Aku gak bisa pulang setelah berada di Jogja. Perjalanan kali ini penuh dengan misteri dan lainnya. Dan seperti yang kukatakan tadi. Beneran! Kami semua tidak bisa pulang. Mengapa? Simak cerita berikut!

“Manusia butuh pengalaman” ya… begitulah kataku. Karena pengalaman adalah guru terbaik, seperti yang kalian sudah tahu. Dan kali ini saya melakukan perjalanan terjauhku, Jogja. Ya, Adventure terjauh bagiku. Bagaimana ceritaku selama disana?

Riset, Riset, Riset,
Begitulah, sebelum melakukan perjalanan pasti ada survey terlebih dahulu kan? Off course, kami juga melakukan survey. Kami mencari data-data yang ada di Jogja. Seperti: Bagimana keadaan Jogja? Apa saja yang ada disana? Apa saja Barang yang dibutuhkan? Tempat apa yg menarik di Jogja? Dsb. Tidak hanya sampai situ, kami juga menghitung berapa biaya yg perlu dikeluarkan? Uang makan, sehari, berapa yg dibutuhkan? Nanti pakai kendaraan apa kesana? Pokoknya riset, riset, dan riset.

Mungkin informasi ini “Diperlukan”
Kami dibagi menjadi tujuh Divisi. Ada Ketua, Sekertaris, Bendahara, Transportasi, Logistik & Kesehatan---Itu dijadikan satu---, Konsumsi, dan Dokumentasi. Orang-orang yang memegang masing-masing Divisi adalah:
·         Ketua = Fauzy
·         Sekertaris = Salman
·         Bendahara = Nasywa
·         Transportasi = Ibnu dan Sholah
·         Logistik & Kesehatan = Balin, Maritza, dan Ghaizka
·         Konsumsi = Azmi dan Naufan
·         Dokumentasi = Faqih dan Aufal
Mereka semua yang terpilih. Ada yang mengeluh “kenapa malah divisi ini?”, ada juga yang “Yes! Dapet divisi ini!”.

Sekertaris yang Selow 😏
Saat itu kami disuruh berkumpul untuk membahas perjalanan kami. Setelah bicara beberapa lama akhirny rapat ditutup. “Baik”, kata Kak Leni, “Segini saja rapatnya, silahkan berkumpul sesuai divisi masing-masing”, “Rapat ditutup. Saya Kak Leni” kemudian Kak Budi menanggapi “Dan saya Kak Budi”, kemudian keduanya berbicara berbarengan, “Wassalamualaikum Wr. Wb.”. “Waalaikumsalam Wr. Wb” kata murid-murid serempak. Kemudian semua orang berkumpul sesuai divisinya masing-masing. Karena saya sekertaris--- yang divisinya hanya satu orang---saya tidak ikut berkumpul. Jadi, saya hanya selow saja 😎
Eh, tapi sendiri juga gak enak lho! Aku malah gak ada kerjaan karena cuman sendiri *hiks*
Perjalanan Yang Legend
Hari Sabtu
Check-in Counter yang Legend
Akhirnya aku sampai di stasiun. Dan lebih untungnya lagi, aku berhasil datang tepat waktu. Disana hanya ada dua orang, yaitu: Fauzy dan Aufal. Biasa, aku suka mulai pembicaraan dengan mereka sebentar, kemudian aku ngevlog. Oh iya, selain mencari pengalaman, aku juga ngevlog. Untung-untung dapat video lah hehehe J Oke, kembali ke cerita, jadi satu-persatu murid mulai berdatangan. Dan akhirnya kami berkumpul semua. Namun, ada satu orang yang tidak datang… yaitu, Naufan. Naufan sampai batas waktu terakhir masih belum juga datang. Ya… akhirnya kami langsung aja baris di dalam. Nah, ketika kami semua sudah didepan check-in counter untuk melakukan pengecekan tiket, ada masalah. karena kami rombongan sekolah, kami ditanyakan benda bernama “Kartu Pelajar”. Kami semua terkejut, karena tidak menyangka ada surprise yang kayak gitu. Kak Budi dan Pak Syahril bertanya dan berunding kepada petugas check-in counter. Perundingan mengalami jalan buntu, kami pun mundur dari barisan, kembali ke tempat semula. Kemudian kami berdiskusi. “Disini ada yang bawa kartu pelajar?” tanya Kak Budi kepada kami. Beberapa murid mengacungkan tangannya, dan kebanyakan yang lainnya tidak bawa atau tidak punya. Karena banyak yang tidak bawa akhirnya kami disuruh mengontak orangtua masing-masing untuk minta dikirimi foto KK. Akhirnya masalah selesai. Kami kembali lagi ke check-in counter. Aku menunggu dengan waswas, jelas kenapa aku waswas, orang tadi ditolak, mana mungkin aku gak waswas? Setelah dipanggil satu-persatu akhirnya kami bisa masuk. Fiuh, akhir yang melegakan. Dan berakhir dengan pelepasan dari Pak Syahril. Pelepasannya berkesan. “Tersenyumlah…” itu yang membuatku berkesan. Karena pas Pak Syahril ngomong begitu akunya lagi manyun karena tadi, waswas gak keterima lagi. Pelepasan berakhir, kami pun mengambil tas dan langsung masuk kedalam kereta karena keretanya sudah tiba. Waktu mau masuk kereta saya pencitraan dulu, yaitu, dengan cara ngevlog. Setelah selesai ngevlog, tiba-tiba datanglah Naufan dengan tergesa-gesa. Aku gembira sekaligus… ya, pokoknya begitulah! Kak Leni bertanya dari mana aja. Naufan kemudian menjawab dari rumah. Tak berapa lama, kami semua akhirnya berhasil masuk. Dan, masalah baru datang. Didalam gerbongnya sudah banyak orang, sehingga, kami semua agak macet karena jalan terhalang. Akhirnya semua mendapatkan kursinya masing-masing.
Hari Minggu
Kereta Hadeuh
Kemudian aku mulai menyimpan tas-ku. Tetapi tempat untuk menyimpan barangnya sudah penuh L. Kemudian, secara singkat, aku berhasil menyimpan tasnya. Tak perlu menceritakan detailnya, karena menceritakannya susah. Akhirnya aku duduk dengan perasaan yang berubah-ubah. Kadang, saat berbicara dengan teman-teman moodnya menjadi senang. Saat selesai ngobrol-ngobrol, moodnya berubah menjadi sedih campur shock. Dan akhirnya beberapa lama mendengarkan pembicaraan tidak produktif, aku menjadi kesal---mungkin itu penyebab aku menjadi kesal. Aku memutuskan mau pindah gerbong saja. Saat mau pergi, musibah datang. Tiba-tiba orang berdatangan lumayan banyak menghalangi jalan. Aku ngedumel. “ini ngalangin aja” “harusnya aku diem aja” “ngapain sih? malah ngalangin”, begitulah semua dumelan yang aku ingat. Kemudian aku kembali lagi ke kursi. Teman-teman pada ngetawain. Aku marahin mereka---biasa, lagi kesal---dan merekapun diam. Setelah itu aku tutup wajahku dengan kupluk dan berusaha untuk tidur, tapi tetap tidak bisa. Singkat cerita, mood-ku sudah baikan, dan aku & beberapa teman tetap terjaga sampai jam 12 malam. Dan sampai akhirnya Kak Budi menyuruh kami tidur. Semua tidur. Aku memaksakan diri untuk tidur dan berhasil 😎
Virus jenis baru: VKR
Selama dikereta aku mendengarkan bunyi seperti benda yang diputar. Bunyinya itu terasa familier, karena bunyi itu berasal dari benda bernama: Rubik. Rubik itu telah dibawa dimainkan Wafa sebelum masuk kereta, sampai masuk kereta. Dan karena itu, muncullah virus baru bernama VKR---Virus Kecanduan Rubik. Rubik itu yang membuat kami semua suka main rubik. Dan virus itu masih dibawa sampai selesai Adventure. Beberapa malah membeli rubiknya sendiri. Dan aku melihat banayk sekali rumus yang mereka terapkan. Tetapi, cerita ini setelah Adventure lho!
Turun, Turun!
Besoknya kereta api sampai juga di pemberhentian. Kami semua langsung bersiap-siap turun. Dan ketika turun, aku masih tetap ngevlog dong J. Selesai merekam langsung kabur ke bawah. Semua sudah  ngumpul. Setelah semua berkumpul, segera kami mencari mushola. Saat itu jam menunjukan pukul 3:00 AM, dan kami semua kelelahan. Setelah sedikit berleha-leha, kami pun berwudhu, bersiap-siap sholat tahajud. Sungguh, sholat tahajud itu hanya bisa dinikmati oleh orang yang tertentu---dan kami semua mengerjakannya dengan khusyuk, Insya Allah. Selesai, kami diberi sedikit waktu istirahat dan kemudian kami berkumpul, rapat segera dimulai. Rapatnya adalah masalah sarapan. Kenapa sarapan saja dipermasalahkan? Karena Kak Budi dan Kak Leni mengusulkan sarapannya di Malioboro saja. Mengapa? Karena jarak dari stasiun ke Malioboro itu kurang-lebih tujuh menit. Karena musyawarahnya tidak membuahkan hasil, akhirnya dilakukanlah voting. Setelah digilir, ternyata hasilnya: 1% didekat stasiun 99% di Malioboro. 1 banding 12. Dan kami semua segera siap-siap berangkat ke Malioboro
Sangkaan = Reality
Sedikit lagi kami sampai di Malioboro. Aku melihat sekitar. Kesannya seperti di Braga, rame tapi damai. Kemudian kami semua duduk dikursi. Karena hari ini aku menjadi pemegang nafkah semua orang---maksudnya pemegang uang sarapan hari ini---dan akan membagikannya kesemua murid. Saat aku bertanya kepada Kak Budi apakah sudah sampai di Malioboro. Apa jawabannya? UDAH. Aku kaget sekali. Ternyata, Malioboro adalah nama Jalan, sama seperti Braga.
Beliemiedannasitelor (Baca: Kesalahpahaman)
Duit dibagikan, instruksi dijalankan, kesalahpahaman mode-on. Kesalahpahaman ini terjadi karena aku tidak menyimak Rapat dengan baik. Yang harusnya memberikan uang supaya dipakainya ketika menemukan warung makan, malah dipakai jajan untuk sarapan. Itu kesalahpahaman yang membuatku selama berjam-jam larut dalam perasaan galau. Ada pepatah yang berbunyi: sudah jatuh tertimpa tangga, dan itulah nasib yang aku alami ketika Adventure. Ketika semua sudah selesai sarapan, tinggal bayar, aku itu terjadi kesalahpahaman. Ada yang udah bayar, dianggap belum bayar. Itu salah satu dari semua kemalangan yang menimpa aku hari itu. Setelah masalah itu beres, aku masih larut dalam perasaan sedih. Bahkan, ketika aku sudah berada diperjalanan menuju kerumahnya Mbah Wafa, aku masih sedih. Begitulah. Tapi, aku berhasil mendapatkan makna: Masalah itu adalah bensinnya kehidupan.
Dek, Rokok?
Beberapa lama kemudian aku terbangun. Mobil dalam keadaan berhenti, semua orang menghilang, pintu mobil yang sebelah kiri terbuka. “Man!”, segera aku menoleh kearah kanan. Oh, Fauzy masih berada di mobil. Aku bertanya “Mana yang lain?”. Kemudian Fauzy bilang “Ibnu dan Kak Budi lagi nanya alamat ke warung, kalau supirnya dlagi nongkrong”. Mendengar itu, membuatku melihat sekeliling. Ternyata kami berada dipinggir jalan raya. Singkat cerita, mereka---pasti Kak Budi dan Ibnu---masih belum juga balik. Oh iya, ada satu cerita yang menurutku sangat penting. Waktu itu sang supir yang sedang nongkrong menunggui mereka, dan Supir itu memanggil kami. “ Dek, rokok?” kata supir setengah teriak. Tentu saja aku terkejut, masa, anak-anak  seumuran aku dan Fauzy, ditawari rokok? Dengan sopan aku menolak tawaran Supir. Aku masih agak shock. Tak lama kemudian Kak Budi dan Ibnu datang. Sang Supir kembali masuk, Kak Budi dan Ibnu juga masuk, pasti. Jadi, mengapa alasannya kami berada dipinggir jalan raya? Itu mungkin karena google map yang error lagi. Kadang memang sih google map menyesatkan. Kami akhirnya putar balik. Singkat cerita kami semua sudah sampai d rumahnya Mbah Wafa---atau yang nanti kita kenal sebagai Mbah Trioko. Ternyata, yang perempuan sudah sampai disana duluan.
Asrama lucky-lucky
Kak Budi, Aku, Ibnu, dan Fauzy turun dari Grab. Setelah barang-barang dibagasi diturunkan, kami semua menyalami Mbah Trioko dan lainnya. Singkat cerita, kami semua sudah berkumpul. Setelah memperkenalkan diri kami pada Mbah Trioko dengan yang lainnya kami dibersiap-siap memindahkan barang-barang kami ke kamar yang sudah diiinformasikan oleh Bu Le. Ternyata, ruangan kami ini adalah sebuah rumah yang hampir jadi---tinggal di cat dan diberi pintu. Kami semua langsung tiduran dilantai yang dingin. Masalah Jogja yang panas nanti dicerita yang berikut.
Panas-Jogja-yang (salah tulis karena panas)
Menurutku Informasi ini penting. Di Jogja itu panas. Kalau dibandingkan Bandung dengan Jogja, lebih panasan Jakarta 😎---kembali ke Jogja. Siangnya bikin kesangan, malamnya seperti jam 8:00 AM-nya Bandung. Karena itu, ketika kami semua sudah ada disana, dan sudah pasang karpet, kami semua langsung tidur-tiduran. Dan tak berapa lama, kami langsung masukin tas-tas kedalam ruangan yang mungkin akan jadi kamar. Beberapa orang mengambil sesuatu yang kuketahui sebagai Hp. Aku terkejut sekaligus marah, soalnya belum diizinkan main hp. Akhirnya, aku bertanya kepada Kak Budi. Kak Budi izinkan untuk bermain Hp sampai peraturan main Hp datang. Karena diizinkan, mereka semua langsung mabar. Mabarnya gak tanggung-tanggung, main PUBG. Ada istilah-istilah yang menurutku aneh. Misalnya: Chicken Dinner, artinya kita menang. Itulah salah satu keanehan PUBG.

Hari Senin
Aku bangun pas waktu shubuh. Ingin sekali aku tidur lagi, tapi merasa sayang kalau tidur lagi. Setelah aku benar-benar sadar, aku langsung pergi ke WC untuk berwudhu, yang lain juga wudhu. Tidak berapa lama kemudian, kami semua sholat. Singkat cerita, kami semua ngaji, setelah itu bagian masak buat makan, kemudian leha-leha lagi. Ketika itu matahari sudah keluar dari bumi. Wafa, yang asramanya berada jauh dari asrama kami, memberitahu agar kami segera ke rumahnya Mbah Trioko. Nanti masalah Asrama ada cerita tersendiri. Kami semua segera persiapan kesana. Setibanya disana, aku melihat ada leptop, dan para perempuan---sudah tentu teman kami---sedang ngobrol-ngobrol. Singkat cerita, kegiatan Magang-pun dimulai. Setelah beberapa lama magang selesai. Jadi, yang dibahas di magangnya itu adalah: Pembuatan Nata de Cassava dan lainnya. Cara pembuatan nata de cassava itu ditunjukan dari leptop, tetapi aku tidak terlalu melihatnya dengan jelas. Hemat kata, yang laki-laki pulang kembali ke asrama, termasuk saya.
Penjelasan Asrama
Seperti yang kujanjikan, sebenarnya penjelasan tentang asrama sudah dibahas diatas. tetapi, dicerita yang ini, saya akan membahas secara keseluruhan.
Jadi, asrama selama adventure itu ada dua jenis: Asrama Lucky-lucky dan Asrama perempuan. Kedua asrama ini memiliki perbedaan, yaitu, asrama perempuan adalah sebuah kamar dirumahnya Mbah Trioko. Sedangkan asrama lucky-lucky adalah sebuah rumahnya Bu Le yang sedikit lagi jadi. Jadi, tak heran jika kami, para lelaki, harus jalan kaki ke asrama perempuan. Dan itu diperparah dengan jarak jalan dari asrama lucky-lucky ke asrama perempuan yang jauh, ditambah dengan panasnya sinar matahari.
Hari Selasa
Peguluran Waktu
Suatu kesalahan yang besar telah kami buat. Ketika itu kami disuruh pergi rumah Mbah Trioko lagi untuk magang. Ketika kami sudah datang disana, jam sudah lewat dari pukul delapan pagi. Sungguh, saya menyesal karena magangnya itu tidak terlaksana, seingat saya. dan akhirnya kami pulang kembali ke Asrama. Sebenarnya sebelum magang, ada masak. Tetapi yang masak, lamanya kebangetan.
Wafa “Sombong Amat
Ada yang membuatku kesal selama berada disana. Wafa, disana dia makin nyebelin. Ketika itu sudah waktunya makan, tiba-tiba datanglah Wafa menaiki motornya Mbah Trioko. “Woy! Makan Woy!” teriak Wafa. Memang sih, diawal hal itu tidak menyebalkan. Tetapi saking seringnya ke asrama lucky-lucky, makin sering juga dia menggunakan motor. Dan parahnya, motor itu pernah dalam keadaan bensin yang kosong, dan tak diisi lagi. hadeuh,ya… begitulah anak yang tadi.
Gak tau, males, gak ada kegiatan
karena gak adanya magang, membuat kami tidak ada kegiatan. Rata-rata diasrama lucky-lucky pada tidur-tiduran dan ngobrol-ngobrol. Kami hari ini benar-benar tidak ada kegiatan. Dan itu benar-benar Benar.
Singkat cerita, adzan maghrib berkumandang. Semuanya pada sholat, yang perempuan sholatnya di asrama lucky-lucky juga. Kenapa? Soalnya asrama lucky-lucky itu luas. Setelah sholat kami, para lelaki, mengeluarkan Al-Qur’an dari tas kami. Karena perempuan bawa Al-Qur’an sendiri mereka tidak perlu balik lagi ke asrama mereka. Aku kurang ingat, apakah setelah itu ada masak, rapat, atau gak ada rapat? Pokoknya segitula cerita yang aku ingat.
Hari Rabu
Rapat berkata: “besok kita ada waktu magang lagi, jadi manfaatkan waktu sebaik-baiknya”. Jelas, yang kukatakan tadi ngaco, karena aku benar-benar tidak ingat apakah shubuh ada rapat atau tidak. Tetapi, hari kemarin yang harusnya ke Parang Tritis, ditiadakan. Dan kali ini kami melakukan persiapan untuk pergi ke Parang Tritis. Tak berapa lama kemudian, datanglah mini bus yang sudah di-booking dari jauh-jauh hari (mungkin).
SKS  
Tak berapa lama, kami semua akhirnya sampai disana. Perlu tahu, periapan kami itu sangat heboh, karena menggunakan SKS---Sistem-Kebut-Sejam. Untungnya kami tidak perlu berat-berat membawa barang-barang. Karena ada yang berbaik hati, menawarkan tasnya untuk dijejali oleh berbagai barang. Nama orangnya: Fauzy. Mungkin aku yang paling menghayati SKS, karena aku merasa banyak kerjaan. Akhirnya, setelah semua baju dijejalkan, dan kami semua hanya membawa tas selendang, kami berjalan kaki ke rumah Mbah Trioko.
Magang dulu, ke Parang Tritis kemudian
Kami semua, termasuk Mbah Putri dan Mbah Trioko ikut juga.
Perjalanan ini kukira akan langsung sampai disana, Parang Tritis. Tetapi, aku salah duga. Ternyata kami pergi ke tempat pembuatan tepung tapioka. Sebenarnya cara pembuatannya mau ditunjukan. Tetapi kami persiapannya sungguh lemot sehingga terlambat kesana. Setelah mendegar penjelasan dari Mbah Trioko dan melihat Contoh tepung tapiokanya, kami kembali menaiki mini bus. Mini bus meluncur pergi ke tujuan kedua kami: Pembuatan Mie Pentil. Mie Pentill ini sudah pernah diberitahu oleh Mbah Trioko. Disana proses pembuatannya hampir selesai. Seandainya kalau tidak telat, cara pembuatannya bisa dirunut.
1.       Potong adonan mie yang sudah disiapkan tipis-tipis
2.       Rebus mie tersebut selama waktu yang sudah ditentukan
3.       Saring mie dan taruh mie di tempat yang bersih, cipratkan mie dengan minyak, tujuannya supaya mie tidak lengket
4.        Beri bumbu, dan selesai.
Begitulah cara-cara membuat mie pentil. Yang mengejutkan dari tempat itu adalah: ibu yang mencontohkan cara membuatnya. Ibu itu telah bekerja disini dari kelas TK. Setelah itu kami pergi ke tujuan terakhir, tempat pembuatan mie gepeng. Nah, kalau ditempat pembuatan mie gepeng kami tidak hanya melihat, kami juga praktek. Ada perbedaan dengan tempat magang yang sebelumnya. Kalau di tempat pembuatan mie gepeng, memotong mie-nya dengan mesin pemutar manual. Mesinnya unik dan keren, tapi susah untuk menjelaskan bentuknya. Cara pakainya, tuas diputar searah jarum jam. Bicara gampang, prakteknya yang susah. Kami bahkan sampai memutar tuasnya berbarengan. Akhirnya magang selesai, kami langsung menuju ke Parang Tritis. Ketika sampai, aku merasa nge-fly atau ­nge-high, tapi tidak benar-benar begitu.
Karang Kritis
Banyak hal yang kalian bisa lakukan disana. Berpura-pura menjadi “sobat gurun”, ber-selfie-ria, dll. Cukup banyak yang kami lakukan disana. Bermain air, nendang-nedang air, lempar pasir pantai ke teman, terseret ombak, tabrakan satu sama lain, menjauh dar tempat semua, kepeleset dipantai, dan banyak lagi. ada satu momen yang menurutku tidak memalukan, tapi tidak menyenangkan juga. Ketika itu aku sedang bermain. Tiba-tiba Faqih berteriak kepada teman-teman, “Hei kalian! Itu kenapa Kak Budi dikerumunin orang-orang?”. Spontan, aku melihat ke arah sebalik. Ya, disana aku melihat Kak Budi dikerumunin dua orang. Langsung aku berlari kearah Kak Budi. Ternyata, itu bukan Kak Budi, itu orang lain. Aku bingung, lansung saja clingak-clinguk mencari Kak Budi. Setelah beberapa saat clingak-clinguk  aku melihat ada Kak Budi dengan Kak Leni. Aku langsung berlari ke arah Kak Budi. “Kak Budi gak apa-apa?” tanyaku agak ngos-ngos-an. Kak Budi malah heran, “gak ada apa-apa kok?”, tiba-tiba Faqih berteriak dengan kencang, “Man! Hampura!” sambil menangkupkan tangan diatas kepala. Aku bingung, emang Faqih salah apa? Ternyata, Faqih tadi salah orang. Dan teryata, tanpa kami sadari, kami terseret ombak semakin jauh dari Kak Budi dan Kak Leni. Hadeuh…
Karantina Rubik
Ketika kami sudah sampai dirumah Mbah Trioko, yang bagian masak hari Rabu turun, termasuk semua perempuan. Sedangkan yang sisanya, pergi ke Asrama lucky-lucky. Ketika itu, maghrib, Wafa secara tiba-tiba datang. Dia marah kepada semua Laki-laki. Dia marah karena rubiknya hilang dan ditemukan didepan pagar asrama lucky-lucky. Dengan marah, Wafa menanyai satu-persatu orang yang ada disana. Tetapi, tidak ada yang ngaku, aku pun sama. Akhirnya, dia mengarantina rubik itu sampai selesai Adventure. Aku sudah memohon-mohon kepada Wafa agar boleh dipinjamkan lagi (bukan sifat lelaki ya v_v).
Hari Kamis
Rutinitas sehari-hari selalu begitu-begitu saja. Kecuali mengaji, rapat, masak, kelompok masak, dan masih banyak lagi. tapi, pasti selalu ada cerita yang berbeda setiap harinya. Kali ini… kami… akan trip… ke Goa Pindul!
Kenapa sih, selalu telat?
Hari ini aslinya mau bantu Mbah. Tapi seperti kebiasaan kami lagi, kami berleha-leha. Dan, Konsekuensinya gak ngebantuin Mbah Trioko untuk ngejemurin kulit singkong. Makin diperparah, yang lain bahkan hanya berbincang-ria, tanpa merasa bersalah.
Goa Pindul
Persiapan kami sudah selesai. Kami tinggal menunggu mini bus yang akan datang. Lama kemudian, mini bus sewaan-pun datang kembali. Kami semua masuk kedalam. Mbah Putri, Kak Reyhan, dan beberapa yang aku lupa namanya, ikut juga. Diperjalanan aku ngobrol-ngobrol dengan Kak Reyhan tentang PUBG dan FF. selain itu juga aku menanyakan tentang jogja, suhu disini, dll. Setelah sampai disana, kami semua turun. Disana kami ditawari berbagai paket trip Goa Pindul. Nama layanan jasanya unik: letatripgoapindul. Namanya memang begitu, bukan sengaja tanpa dispasi. Kembali kecerita, karena biaya yang cuman sedikit, kami memutuskan hanya trip ke Goa Pindulnya saja.  Setelah penjelasan yang bergaung-gaung, kami bermain air. Caranya lompat dari tempat tinggi. Dan ketika melakukan itu, kami difoto-foto oleh kameramen---dari sebelum masuk goa, udah difoto-foto.
Kertas 15.000-an
Setelah selesai berenang didalam Goa Pindulnya, kami balik ke tempat penitipan barang. Disitu kami ditawari foto kami yang sudah dicetak. Harganya terlalu tinggi, 15.000. hanya foto kami, ditambah dengan watermark goa pindul, harganya 15.000-an? Kemahalan tuh… setelah Kak Budi berbicara kepada kami semua, kami semua memutuskan untuk tidak membeli. Karena tidak dibeli, akhirnya penjual foto kami, menurunkan harganya menjadi 5.000. hanya beberapa yang tergiur untuk membeli foto. Tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba Mbah Putri membelikan kami foto-foto tersebut.
Kami Memalukan
Benar, kami ini sangat memalukan. Adventure serasa bukan Adventure, tapi serasa tamu VIP. Kami sudah mempermalukan diri sendiri. Pertama, foto-foto itu mereka belikan. Kedua, sudah difasilitasi tetapi kami tetap tidak sopan. Dan lain-lain. Adventure kali ini serasa bukan  Adventure.
Pulang… tapi boong
Setelah pada mandi dan sholat kami pun pulang. Tapi boong. Ternyata Mbah menawari kita tempat lain. Aslinya kan kami ini di Goa Pindul dari jam 10:30 sampai jam 17:30. Tetapi, di Goa Pindul itu hanya sebentar. Akhirnya, karena kagok kalau langsung pulang, akhirnya kami menyetujui tawaran tersebut. Nama tempatnya adalah Hutan Pinus. Singkat cerita kami semua tiba disana. Setelah memesan tiket kami segera masuk. Didalam ada promo yang kocak. “Ayo! Beli coklat Kuburan, Kantong Darah, dan lain-lain!”, aku tertawa melihat promo tersebut. Kembali kecerita, aku dan Wafa ditugasi mencari tempat untuk beristirahat. Wafa menemukan tempatnya lebih dulu. Akhirnya, kami beristirahat disana, dan makan nasi goreng buatan Mbah. Kak Budi dan Kak Leni entah kemana, mungkin sedang romantis-romantisan.
“Hah! Iya?!”
Matahari mulai tenggelam. Aku menanyakan mereka nanti sholat asharnya dimana. Salah satu dari mereka, temanku, heran. “Man, bukannya sholatnya dijamak?” aku terkejut, “memangnya yang lain dijamak??” tanyaku agak keras, “iya”. Aku pun langsung mencari Kak Budi. Beberapa lama kemudian aku dan lainnya berhasil menemukan Kak Budi dan Kak Leni. Kemudian aku bilang kepada Kak Budi aku belum sholat dan aku minta tiketnya supaya ada bukti aku sudah masuk. Setelah itu aku keluar dengan Kak Reyhan yang sama, belum juga sholat. Akhirnya, setelah kami selesai sholat ashar, kami langsung masuk kedalam. Kak Reyhan keatas bersama adiknya, sedangkan aku mengeluarkan hp, trus ngevlog, kemudian aku menemukan teman-teman.
Takut ketinggian
Setelah ngevlog sebentar-sebentar, aku langsung pergi naik keatas menara. Yang ada diatas menara pada turun semua, sedangkan aku, naik keatas.Masalahnya menara itu sangat tinggi, sehingga ketika saya naik keatas sana, lutut saya jadi gemeteran. Setelah perjuangan keatas aku bernafas dengan lega. Tapi, ketika saya sedang ngevlog, tiba-tiba muncul kepalanya Wafa. Dia lagi clingak-clinguk melihat ada orang lain. Kemudian dia teriak kebawah, “aman Nas!”. Maka, komplitlah keonaran yang terjadi. Setelah berhasil merekam, saya masih berada diatas sebentar. Tiba-tiba datanglah mereka, para lelaki, kebagian bawah menara. Aku ada firasat bahwa, pasti ada satu orang yang akan melihat keatas. Firasat itu terbukti. Fauzy secara tiba-tiba melihat keatas. “Woy teman-teman! Itu ngapain si Salman diatas?” aku langsung turun kebawah, sambil marah pura-pura kepada Fauzy. Pokoknya itulah cerita ke-onaran yang keren.
Pulang, tapi emang
Perjalanan hari ini selesai, semua kembali ke bus, dan sampai dirumah menyimpan barang-barang kembali.
Hari Jum’at
Semua pasti tahu kalau Borobudur itu tempat dimana Domestik dan Turis sering mengunjungi. Tetapi aku mempunyai kesan tersendiri selama disana.
Tawar-Paksa
Ketika itu mini bus sudah tiba di Borobudur. Ketika keluar dari mini bus, ada banyak hal yang menyebalkan. Cuaca yang sangat panas, minuman yang-mahal,dll. Tetapi ada satu hal yang membuatku agak kesal. Pedagang disana menerapkan Tawar-Paksa. Itu yang membuatku sebal selama disana.
Sewa Tour-guide vs sendiri
Kami sudah menunggu lama diluar, menunggu Divisi Logistik yang sedang membeli tiket masuk. Setelah mereka kembali, langsung kami semua,termasuk divisi logistik, pergi ke dalam. Singkat cerita, kami semua sudah sampai disana. Setelah di-scan dan tas kami diperiksa, kami semua langsung masuk kedalam. Beberapa teman, barangnya diambil dan nanti dikembalikan ketika sudah selesai trip-nya. Ketika semua sudah masuk, kami berkumpul. Setelah berdiskusi diputuskan kami menyewa Tour-guide. Kami langsung mengikuti Pak Jinni (maaf kalau salah tulis), sebagai tour-guide. Ternyata ada kesan yang berbeda ketika menyewa tour-guide dengan tidak menyewa. Ketika kalian menyewa tour guide, kalian akan lebih paham, kenapa Candi Borobudur dibangun. Dan bagi yang sudah pernah kesana, bila kalian memperhatikan dinding yang ada gambarnya, itu bukan sekedar gambar. Itu adalah cerita. Ceritanya saya spoiler-in dikit. Jadi ada seorang raja dan ratu. Mereka menjaga rakyatnya dengan baik dan bijaksana sehingga raja dan ratu itu disukai oleh rakyatnya. Pada suatu hari, sang ratu merasa khawatir karena dia tidak memiliki keturunan. Ketika ratu sedang tidur, dia bermimpi ada gajah kecil, berwarna putih, masuk kedalam perutnya. Dan ketika ratu terbangun, dia merasa ada janin didalam perutnya. Mimpi yang jadi kenyataan. Jadi itu sedikit spoiler dari saya. kalau kalian mau lebih mengerti makna dan cerita yang ada di Candi Borobudur, sewa Tour-guide. Mungkin harganya mahal. Tapi kalian akan mengetahui makna dan cerita yang ada disana.
Mushola, Surga Dunia
Perjalanan itu diistirahatkan dengan pergi ke Mushola. Sambil sholat dzuhur dijamak, beberapa duduk-duduk dihalaman. Ada Quote Kak Budi yang membuatku berkesan. “Kata Pak Jin, Candi Borobudur yang paling atas adalah surga. Tetapi, saya baru menyadari bahwa surga dunia adalah mushola”. Qoute yang sangat mengesankan. Ini adalah renungan untuk kita semua. Masjid, tempat ibadah kaum muslimin, adalah surga dunia. Masjid adalah taman-taman surga. Jadi, masihkah kita meninggalkan surga dunia? Masihkah kita meninggalkan taman-taman surga?
Pulosari atau Keraton?
Ketika sedang ngumpul dimushola Kak Budi bertanya. “man-teman, jadi perjalanan selama di Borobudur ini sudah selesai” “Nah, ada satu perjalanan yang terakhir” “ada dua opsi, mau ke Keraton, atau mau ke Pulosari?” “’kenapa tidak dua-duanya?’ karena kedua tempat itu beda jalan” “kalau yang ke pulosari, jalannya lebih dekat ke Rumah, sedangkan yang ke Keraton jaraknya menjauh dari rumah. Jadi, mau pilih yang mana?”. Hasil voting menunjukan lebih banyak yang ke Pulosari daripada ke Keraton. Bagaimana mau menang? Hasilnya aja yang pilih ke Keraton: 1 orang, tetapi yang pilih ke Pulosari: 12 orang? Kalah atuh…
Tidak Menyesal
Bis menuju kearah Pulosari. Anehnya, perjalanan itu terasa lebih panjang. Dan gawatnya lagi, kami sampainya pukul empat sore. Jadi ketika kami bermain disana, pulangnya sudah waktu isya. Tapi aku tidak menyesal, walaupun pilihanku tidak terpenuhi. Bermain disana sangat menyenangkan. Dan momen paling best bagiku ketika kami sedang berganti baju. Kami semua saling tameng-tamengan, menutupi yang sedang memakai baju, dan kalau sudah selesai, gantian berjaga. Aku tidak menyesal, ketika aku ada di Pulosari. Bagiku, itu adalah penyegarnya Borobudur. Dan aku tidak menyesal, Pulosari itu gratis dan menyimpan kenangan bahagia.
Hari Sabtu
Semua perjalanan disekaliguskan
Berdasarkan rapat, hari ini kami melakukan semua perjalanan disekaliguskan. Banyak hal baru yang aku temui hari ini. Ada Trans Jogja. Bentuknya sama seperti bus. Tetapi rutenya menurutku berbeda dari bis. Naik Trans itu harganya lebih murah. Kalau bis 5.000-an, Trans Jogja lebih murah, 3.000-an.
Tujuan pertama kami adalah: Prambanan. Setelah beberapa kali Transit, akhienya turun juga. Seingatku, kami turun ditransit Prambanan. Dari sana kami jalan kaki beberapa meter. Sampailah di Prambanan. Divisi logistik bekerja kembali. Mereka membelikan tiker masuk. Tetapi ketika itu ada masalah, gak tahu mengapa kami jadi memesan tiket dewasa. Dan setelah discan kembali, kami berhasil masuk ke Prambanan.
Tour-guide, jago nge-rap.
Seperti biasa, kami menyewa kembali Tour-Guide. Dan tour-guide itu mengajak kami berfoto-foto dahulu. Setelah berfoto-foto aku langsung lari ketempat beli Aqua. Sebagai pengingat, bawalah uang lebih ketika ke Prambanan. Mengapa? Karena Aqua harganya 6.000-an. Mahal sekali. Kembali kecerita, sambil mengikuti Tour-guide, aku minum air Aqua tadi. Dan akhirnya kami sampai didepan Candi Prambanan. Tour-guide itu menjelaskan asal-usul candi Prambanan. Tapi, cara menjelaskannya itu seperti sedang nge-rap. Nagi yang bertelinga kurang peka, pasti akan lupa apa  yang dibicarakan Tour-guide itu. Ketika kami berada didalampun tour-guide itu berbicara dengan sangat cepat. Alhamdulillah, aku masih bisa menangkap beberapa omongan tour-guide. Dan akhirnya perjalanan tersebut selesai.
Ada Bule dimana-mana
Ketika perjalanan selesai, aku melihat sekelling. Disana banyak sekali orang bule. Bahkan beberapa domestik berfoto dengan para turis tersebut. Sebenarnya aku ingin berkenalan dengan mereka, tetapi aku takut, dan alasan lainnya turis itu sudah besar-besar. Dilihat dari wajahnya ada yang berumur 18 tahun sampai yang berumur 30 tahun.
Vlogger beraksi!
Kami masih di Prambanan, tetapi kami sudah keluar dari candi Prambanan. sambil menunggu Audio Visual (nanti kujelaskan ceritanya), kami smua bermain di taman Prambanan. sama seperti taman yang ada di komplek, tetapi taman Prambanan ini tempatnya sangat luas. Karena bosen dengan kegiatan yang gitu-gitu aja, aku mengeluarkan hp untu kembali nge-vlog. Dengan nyali yang kuat, aku mencoba untuk jalan-jalan secara random. Tanpa kusengaja, ketika sedang jalan-jalan, aku menemukan anak pramuka sedang membuat tenda disana. Tendanya itu bukan tenda-instan, tetapi tenda yang benar-benar mereka buat sendiri. Sambil direkam, sambil berteduh. Karena merasa cukup, dan takut dicariin sama semuanya, aku kembali ke kafe. Ketika perjalanan kembali, aku bertemu dengan ular albino. Aku meminta izin untuk merekamnya. Setelah merasa cukup, aku berterimakasih kepada bapak penjaga ular tersebut, dan langsung balik ke kafe.
Pak! Ngejepret!
Kenapa kami mau pergi ketempat Audio Visual? Karena untuk melengkapi cerita yang kurang lengkap. Karena waktu pemutarannya tertentu, jadinya kami harus menunggu. Itulah alasan mengapa kami bermain di taman selama satu jam. Singkat cerita, kami pergi ketempat Audio Visual. Ada hujan ada angin, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Tetapi, beberapa saat satu menit kemudian hujan reda. Lebih cepat lagi, kami sudah sampai ditempat Audio Visual. Setelah memesan tiket untuk menonton, kami semua langsung masuk kedalam. Ada hal yang lucu. Ketika itu video sudah berada ditengah-tengah durasi, tiba-tiba semuanya mati. “Pak! Ini kenapa?” teriak Kak Budi sambi tertawa kecil. Sambil menunggu diperbaiki, aku tidur-tiduran dilantai. Setelah beberapa saat Infocus kembali menyala. Ketika video kembali dimulai kami memerintahkan agar dimajukan ke bagian yang tadi belum ditonton. Ya, begitulah pengalaman yang kocak.
Mencari Masjid
Setelah dari prambanan kami naik Trans Jogja ke Keraton. Sesampainya didepan Keraton, kami langsung berjalan menyebrang, mencari masjid. Setelah Kak Budi bertanya-tanya kepada penjual, kami langsung berjalan kearah yang dituju penjual. Sesampainya disana, kami beristirahat. Ketika sedang beristirahat kami disuruh ngumpul. Kak Budi dan Kak Leni bilang, kami boleh jalan-jalan, asal jaga diri dan jaga yang lain juga, dan sekarang main hp dibebaskan. Beberapa senang karena diperbolehkan main hp, beberapa lagi senang karena boleh jalan-jalan. Aku juga termasuk yang senang karena bisa jalan-jalan.
Taman yang ini Luas banget
Berangkatlah aku dari masjid, pergi keluar. Disana aku lebih memilih meyendiri daripada bersama teman-teman. Terlintas dipikiranku, yang membuatku senang sekaligus gembira. “Jalan-jalan nyasar” begitulah aku menamakannya. Maka, jalan-jalanpun dimulai. Aku memulai dengan pergi ke taman. Taman itu sangat luas. Oh, itu bukan taman, itu alun-alun Keraton. Ketika berjalan-jalan disana aku melihat ada dua pohon cemara yang berdekatan. Aku mencoba masuk kesana. Kukira, ketika orang masuk diantara kedua pohon cemara tersebut, akan berpindah dimensi. Ternyata tidak L Btw, aku langsung jalan-jalan lagi. ketika sudah berada dipinggir jalan raya, aku melihat ada bencong sedang ngamen. Dari wajah-wajah orang yang dingameninnya terlihat geli dan takut. Setelah memerhatikan agak lama aku melihat bencong itu mengeluarkan dompet. Dia melihat isinya dan agak termenung. Segera aku meninggalkan bencong itu. Ketika sedang jalan-jalan tidak jelas aku menemukan tempat makan yang bernama unik, Soto Sampah. Dan jalan-jalan nyasar pun berakhir. Aku segera kembali ke Masjid. Ketika sampai di Masjid, kaki dalam keadaan pegal, badan agak linu. Akhirnya Waktu Maghrib-pun datang.
Kesal yang Gak Jelas
 Hari ini aku sedang kesal tidak jelas. Aku marah hampir kesemua orang. Sampai selesai sholat-pun aku masih marah kepada mereka. Maka, ketika waktu rapat, aku tidak mendengarkan dengan baik. Rapatnya membahas tentang perjalanan kami ke Malioboro. “Ke Malioboronya mau naik Bentor atau jalan kaki?” tanya Kak Budi setelah dijelaskan secara gamblang positif dan negatif dari kedua pilihan  tersebut. Aku memilih jalan kaki, alasannya menghemat uang selama di Jogja, soalnya uangnya dalam keadaan kritis. Setelah keputusan berakhir, rata-rata memilih naik Bentor. Dan akhirnya jalan keluar dari permasalahan itu adalah kedua-duanya disepakati. Ketika sudah bersiap-siap, dan kami sudah mau pergi, dinasehati oleh Kak Budi. “selama diperjalanan jaga satu sama lain, jangan ada yang bengong” “taruh tas kecil didepan, karena selama diperjalanan ke Malioboro semua orang kan bercampur. Jadi ada orang jahat, ada juga orang baiknya” “Kalau nyasar diperjalanan, kirim WA ke Kak Budi atau ke Kak Leni, atau buka google map di  HP kalian”. Setelah dinasehati, kami diberikan pilihan lagi. kalau mau jalan kaki, ke Kak Budi, kalau yang mau naik Bentor, ke Kak Leni. Ketika itu aku menggerutu “Kalian mah, ikut-ikutan” “tadi mau naik  bentor, sekarang malah jalan kaki”. Naufan yang mendengar hal ltu, menyanggah pendapatku. Aku gak tahu dan gak mau tahu apa yang diomongin Naufan saat itu, soalnya aku lagi kesal banget. Kalau mau diceritakan sampai habis, rasanya membuang-buang waktu. Jadi aku akhiri cerita ini, disini saja.
Gudeg yang enak
Sebelumnya kami mau beli gudek yang terkenal disana, tetapi kami kehabisan. Akhirnya kami pindah ke tempat gudeg yang disebelah. Waktu itu aku masih dalam keadaan yang sangat kesal, dan aku males memesannya. Tapi, setelah makan gudeg, rasa kesalku menurun. Gudeg di Jogja dengan Gudeg di Bandung beda banget. Kalau di Bandung gudegnya berwarna coklat. Tapi, kalau di Jogja, serasa bukan gudeg.
Belanja!
Setelah makan kami pergi keluar untuk berbelanja. Disana sudah ditentuin dimana tempat nanti kami kumpul, malioboro, destinasi pertama pas waktu sarapan. Yang perempuan lebih dulu meninggalkan tempat dan langsung berbelanja. Sedangkan yang laki-laki agak telat. Singkat cerita kami sudah memulai perjalanan kami. Aku hanya melihat-lihat sekitar, dan yang lain menunggu menemukan barang yang cocok. Perjalanan berbelanja ini menimbulkan déjà vu. Aku ingat ketika aku berjalan-jalan membeli barang, tapi bukan di Jogja. Pernah membeli barang, tapi bukan di Jogja. Akhirnya aku menemukan penjual gelang. Gelang itu mahal harganya. Aku tawar, harganya menjadi 3.000-an. Setelah membeli aku mengikuti jejak teman-temanku yang sedang ditawari teteh-teteh. Membeli seperti koko-crunch. Setelah menawar yang tidak bermutu, akhirnya dua orang membeli dengan patungan dari masing-masing. Melanjutkan perjalanan lebih jauh lagi. terlalu banyak hal yang harus diceritakan, tapi saya rasa cerita yang ini cukup sampai disini.
Hari Ahad sekaligus Pulang
Maggot
Perjalanan yang terakhir, dan menginap yang terakhir. Perjalanan kali ini ke Bumi Langit. Jarak dari sini ke Bumi Langit sangat jauh. Dan kami menyewa minibus lagi. beberapa lama kemudian kami sampai disana. Oke, langsung ke inti, jadi kami belajar tentang kompos dari kotoran sapi, menyaring air menggunakan tanaman eceng gondok, dll. Tapi ada satu hal yang membuat temanku, Fauzy, merasa geli. Maggot. Maggot atau belatung ini digunakan sebagai makanan Ayam. Dan ternyata, Fauzy gak suka melihat Maggot itu.  Jadi, itu yang berkesan selama disana.
Permintaan maaf dan segalanya
Mbah, aku meminta maaf atas segala kesalahan yang aku perbuat selama disana. Aku telah merusak gelas, maafkanlah aku. Itulah beberapa kesalahan aku. Tidak tahu berapa banyak kesalahan aku perbuat. Semoga Mbah tidak marah kepada kami.
Strategi “2-2”
Setelah meminta maaf atas segala kesalahan kami, kami langsung menaiki elf yang sudah dari tadi menunggu. Tapi, sebelum naik, tas-tas kami ditaruh diatas. setelah itu kami masuk. Selama perjalanan, Mbah Putri dan Bu Le menemani kami. Ketika itu kami berhenti di toko bakpia Pathok. Setelah kami membeli berbagai barang, kami langsung kembali menaiki elf. Tak lama kemudian, elf pun berhenti didepan stasiun. Kami pamit dengan Mbah Putri dan Bu Le. Setelah pamit, kami semua langsung memasuki stasiun. Setelah memesan tiket, kami menunggu perintah masuk kedalam stasiun. Sambil menunggu aku mencoba getuk khas Jogja. Rasanya enak, dan bikin pingin makan lagi.
Setelah beberapa lama, kami dipanggil untuk masuk. Kali ini kami melakukan strategi “2-2”. Strategi “2-2” ini cara kerjanya adalah: kami masuknya secara berdua, kemudian menunggu agak lama, dua orang masuk lagi. hal ini dilakukan agar kami tidak dianggap rombongan sekolah, dan tidak ditanyai Kartu Pelajar. Dengan agak waswas aku menunggu giliranku. Kak Leni bilang agar aku mengontrol wajahku. Ketika aku dan Naufan ke check-in-counter, kami tidak ditanyai Kartu Pelajar. Kami selamat.
Singkat cerita kami semua sudah ngumpul, dan tinggal menunggu kereta datang. Setelah beberapa lama, kereta-pun datang. Ketika memasuki kereta, situasinya tidak sesulit ketika baru ke Jogja.
Hari Senin
Sampai, dijemput, pulang
Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di Bandung. Ketika itu kami sholatnya diluar stasiun, soalnya mushola di stasiun Kiaracondong itu kecil. Singkat cerita, pagi-pun datang, dan satu-persatu dijemput. Tinggal aku dan Faqih yang berada disana. Kemudian, ayah pun datang, menjemput aku pulang.
The end
Salman