Halo pembaca! Hari ini saya akan menceritakan pengalaman
saya selama di Tasik. Kemarin aku menulis perkiraan selama nanti kegiatan
disana. Sekarang aku akan menceritakan yang sebenarnya.
Lho? Kenapa gak dari
persiapan? Nanti itu akan buat khusus ceritanya. Jadi aku berangkatnya jam
7 pagi karena yang dijadwalkannya maksimak disana kumpul jam 8 pagi. Eh,
ternyata setelah aku sampai disana baru ada dua orang disana. Yaitu, Faqih dan
Fauzy. Aku sempat kaget soalnya yang berada dipikiran aku semua sudah pada
disana dan aku yang datang terakhir. Pokoknya aku turun dari motor setelah itu
aku nanya ke Faqih. “Qih, emang batas waktunya sampai jam berapa?” tanyaku.
“sampai jam sembilan” jawab Faqih singkat. Aku merasa senang sekaligus malu.
Kenapa? Karena yang aku dengar waktu itu jam delapan (waktu maksimal), eh
ternyata jam sembilan. Setelah itu aku menunggu teman-teman aku yang lain. Oh
iya, disana juga ada Om Ayi, dan Bapak Fauzy. Ini hal yang menarik, aku kan
nyampenya jam delapan. Tapi yang datang dikit, ada caca. Tapi menjelang jam
sembilan langsung banyak orang yang datang. (Aku lupa urutannya) ada, Naufan,
Azmi, Solah, Nasywa, Ibnu, Wafa, Ammar, dan yang terakhir, Kak Budi dan Kak
Leni. Kak Leni waktu itu kena musibah, motornya kecurian. Aku bisa tahu begitu
karena Om Ayi bacain pesan WA (WhatsApp). Singkat cerita semua sudah datang,
kami semua langsung masuk kedalam masjid yang sedang direnovasi. Didalam kami
memulai pelepasan yang dipimpin oleh Om Ayi. Awalnya sih mau sama Bunda (Ibunya
Faqih) tapi mungkin karena ada urusan jadinya digantiin sama Om Ayi. Pelepasan
dimulai, kemudian selesai, kemudian aku disuruh sama Kak Budi untuk nyari
Transportasi. Kenapa? Karena aku dan Fauzy bagian Transporasi. Menurut laporan
yang harus aku cari adalah bis Budiman. Singkat cerita kami (Fauzy dan Aku)
nyari bis yang bertulisan “Bandung – Tasik”, kemudian kami nanyain ke kondektur
“pak, ini bis berangkatnya kapan?”. Di terminal ada dua bis yang jurusannya sama
tapi waktunya berbeda. Kondektur1: berangkatnya jam 11 dek”, kondektur2:
“berangkatnya jam 12 dek”. Akhirnya kami berunding dan memilih yang
berangkatnya jam 11. Kemudian balik lagi ke Masjid. Melaporkan yang telah kami
dengar dan cari. Singkat cerita kami semua bersiap-siap, kemudian kami semua
berjalan ke terminal. Kemudian kami naik ke bus dan direkam sama Ibnu karena
Ibnu bagian dokumentasi. Setelah itu kami mencari tempat duduk masing-masing.
Aku lumayan deg-degan soalnya ini bis yang berangkatnya jam 12. Karena khawatir
aku terus menanyai si Fauzy “Zi, Memangnya bus yang ini gitu?”. Fauzy bilang
iya. Tapi kekhawatiran itu lama-lama hilang, aku sekarang lumayan senang.
Akhirnya bis berangkat juga. Aku mulai senang.
Perjalanan
Mengganggu
Di perjalanan aku ngobrol-ngobrol sama Ammar, main tebak
lagu dan Naufan ikut nimbrung juga, “main nyanyi sampai selesai”,
ngobrol-ngobrol lagi, kemudian diam. Yang menguji kesabaran adalah dua hal:
Pedagang, dan Pengamen. Yup, mereka menguji “kemampuan menjaga diri”dan
“kesabaran” kami. Yang pertama datang adalah pengamen. Pengamen yang pertama
ini sebagian rambutnya di cat putih dan coklat, badannya besar. Dia menyanyikan
sebuah lagu yang namanya “azab”. Aku yakin pasti itu bukan lagu yang ada
dimanapun. Kemudian setelah Sang Pengamen meminta duit dan pergi, beberapa saat
kemudian Sang Pengamen2 datang dan menyanyikan
lagu sendu. Kejadian berulang lagi, Sang Pengamen2 meminta duit dan
kemudian pergi. TERNYATA SETELAH BEBERAPA SAAT KEMUDIAN DATANGLAH SANG
PENGAMEN3! Pengamen yang ketiga ini cara bicaranya yang aneh sehingga beberapa
saat aku menganggapnya “Monster”. Setelah menyanyi dia melakukan hal sama
seperti pengamen dan pengamen2. Setelah itu datang pedagang yang menawarkan
pada semua orang Buff (semoga
penulisannya benar). Tapi aku tidak membelinya walaupun aku punya uang sebesar
Rp.-50.000. beberapa temanku membeli Buff
seperti Azmi, dkk (gak semua). Setelah itu muncul dua Bapak-bapak penjual
makanan. Ada yang jualan Tahu sumedang, telor puyuh, permen, mangga muda, cimol
dll. Setelah itu datang lagi penjual Power Bank. Pokonya bis adalah tempat yang
ramai dikunjungi pedagang dan pengamen.
Little phsyco salah satu liriknya
Akhirnya bis sepi juga dari pedagang. Aku mulai membuka
Belvita aku. Snack yang aku bawa ada Doritos, biskuit, dan belvita. Kemudian
aku bagikan kepada teman-temanku. Sayang sekali aku gak dapet :*( Aku dan Ammar kembali ngobrol-ngobrol lagi.
Aku mendengar yang perempuan juga nyanyi, mungkin permainan yang mereka mainkan
adalah “sambung-menyambung lagu”. Yang aku sering dengar mereka nyanyi adalah
(penggalan lirik): Little Phsyco. Itu
aku sudah sering dengar di sekolah.
Ternyata
ada juga yang dari pamijahan
setelah seperempat perjalanan, aku membuka doritos.
Doritosnya aku bagikan kepada orang yang tidak dikenal: seorang ibu. ibu itu
mengambil doritos yang telah kutawarkan. Kemudian aku mengobrol dengan ibu itu.
“ini the pada mau kemana?” tanya ibu itu. Aku menjawab “mau ke tasik”, “ada
acara apa?” tanya si Ibu lagi. Terus aku menjelaskan kepada Ibu kegiatan kami
selama disana salah satunya ke Pamijahan. “oh, ibu tinggal disana” Wow!
Ternyata Ibu tinggal di daerah Pamijahan. “Oh! Ibu tinggal disana?” tanyaku,
“iya, ibu tinggal disana” jawab ibu, “Emmm…” kemudian kami diam.
Tidur…
kemudian Haus
Mungkin masih jauh dari setengah perjalanan. Ketika itu aku
udah bosen dan ngantuk. Beberapa lama aku berusaha menahan kantuk dan akhirnya
tertidur. Bangun-bangun aku sudah berada ditengah perjalanan. Kenapa bisa tahu?
Karena aku bertanya. Ketika aku bangun aku melihat Ammar sudah tidur, dan
beberapa juga udah tidur tapi masih ada yang bangun. Yang bangun pada kehausan
dan yang tidur pada kelihatan lelap. Ngomong-ngomong tentang kehausan aku juga
haus. Aku melihat di kresekku ternyata air minum sudah habis. “Man, kamu punya
minum gak?” tanya Ibnu, “gak punya” jawab aku. Karena aku juga haus aku banguni
Ammar. “Ammar, boleh minta air putih gak?” tanyaku, Ammar hanya mencari minum
dan menyerahkan kepada aku. Aku minum, kemudian aku bertanya kembali. “Si Ibnu
boleh minta gak?” si Ammar ngelihat sebentar kemudian tidur. Aku isyaratkan
sebagai iya. Aku kasih minuman itu ke Ibnu dan Ibnu minum. Setelah itu dia
ngembaliin minumnya ke aku dan aku ngembaliin ke Ammar. “Makasih” kataku.
Harapan
= luar perkiraan
Oke sebelum aku cerita lebih lanjut, aku mau bercerita
tentang pemikiranku selama disana. Misalnya: Rumah Kak Leni. Yang Aku pikirkan
rumah kak leni itu dibelakangnya pantai ada pohon kelapa di sebelahnya dan
matahari bersinar panas. Dan satu lagi: Rumahnya Kak Leni adalah rumah
Panggung.
Kira kira begini
gambarnya
Eh ternyata… Rumah Kak Leni itu berada di daerah hutan,
ditengah rumah yang mendempetnya dari sisi kanan dan kiri. Trus aku pikir
Pamijahan kaya Guha yang di pinggirnya berhutan dan ada tulisan di atas guhanya
seperti “selamat datang di Guha”. Ternyata, sebelum mencapai guha ada banyak
pasar disekitarnya. Dan di pinggir Guhanya gak ada hutan sama sekali. Oh, nama
guhanya Sapar Wadi.
Turun
dari Bis
Oke, kembali ke cerita yang sebelumnya. Kami berhenti di tengah
jalan. Kemudian kami ambil-ambil barang kami dari bagasi. Dijalan, ketika kami
turun, ada sekitar tiga laki-laki yang menawari kami tumpangan (tapi bayar).
Kami semua menolak karena menurut Laporan/Proposal kami akan naik Elep. Bahkan
ketika kami pergi mereka memaksa. Misalnya: “a, naik ojek a?”, “nanti kesananya
naik apa a?”, trus mereka akan membandingikannya, begitulah cara tukang
transportasi memaksa. Tapi kami tidak menghiraukannya. Walaupun si Emang itu
mengikuti kami-pun tidak akan kami hiraukan. Kami terus berjalan sampai
berhenti di pom bensin. Nah disana kami bukan mau ngisi bensin tapi mau sholat.
Kami langsung pergi ke mushola wudhu kemudian sholat. Sholatnya di jamak qosor,
ashar dan dzuhur.
Pertanyaan
saya
Selesai sholat kami kembali keluar mushola. “Salman,
dipanggil sama Kak Budi” Kata Ibnu tiba-tiba, “Oh, oke”. Kemudian aku langsung
berlari menemui Kak Budi. “Iya Kak Budi? Ada apa?” tanyaku. Kak Budi menjadi
Bingung, “Lho? Kenapa tiba-tiba kesini?” tanya Kak Budi. “Lho, bukannya kak
Budi yang manggil?” aku tanya balik, “nggak” jawab Kak Budi “yaudah aku balik
dulu” jawabku. Ketika aku mau lari Kak Budi teriak “Eh, Man! Disini aja
kamu-kan bagian transportasi!”, “Sebentar! Aku ada urusan!” kataku setengah
teriak. Kemudian aku kembali ke mushola untuk menyelesaikan satu masalah:
tasku. Setelah masalah itu selesai aku kembali berlari ke Kak Budi. Ketika
hampir sampai disana aku mendegar Fauzy dan Kak Budi ngobrol-ngobrol. “Aji” itu
panggilan untuk Fauzy, “Kalau mau ke RKL naik elep yang jurusannya
‘Tasik-Pamijahan-via porumponteng’” kata Kak Budi memberi tahu. Aku mendengar
percakapan mereka. Kemudian kami bertiga diam. Tiba-tiba, sebuah pertanyaan
terlintas di kepalaku. “Kak, kenapa orang bule datang ke Indonesia, padahal
Indonesia-kan kotor?” tanyaku. Kak Budi diem sebentar, “Ada tiga kemungkinan,
yaitu: alamnya, orangnya, atau budayanya”. “Eh…” aku bingung. “kenapa karena
alamnya Kak? Padahal Indonesia-kan kotor?” tanyaku lagi, “Pertama,karena di
Indonesia itu Alamnya masih banyak yang hijau” “Trus, kedua, orang Indonesia
itu baik-baik tidak seperti orang yang diluar negeri” “Kalau ada orang
kecelakaan diluar negeri yang ngelihatnya ngediemin dulu sambil telepon 991”
“Trus, ketiga, Indonesia itu banyak budayanya” jawab Kak Budi. Aku mengangguk-angguk.
Tapi, mungkin yang Kak Budi katakan benar dan salah. Karena waktu itu aku
menonton satu video yang menunjukkan kepedulian orang luar.
Naik
Elep
Mencari sambil menunggu. Tak lama kemudian datang elep tapi
jurusannya berbeda. Nama jurusannya aku lupa. Dia menawarkan kami tumpangan
tapi kami menolak. Si Emang tidak menyerah, dia menanyakan kami akan pergi
kemana. Terus Kak Budi menjawabnya. Terus si Emangnya memaksa tapi Kak Budi
menolaknya. Kemudian secara tiba-tiba ada elep yang jurusannya “Tasik-Pamijahan-via
Porumbonteng” datang menghampiri mereka yang ada di mushola. Kami bertiga (Kak
Budi, Aku, dan Fauzy) melihat elep itu kemudian lari ke mushola. Ternyata, masalah
tasku itu masih belum selesai. Beberapa lama aku kembali berkutat dengan tas.
Akhirnya, gak selesai juga. Terus, aku dibantu sama Kak Budi dan akhirnya
selesai. Ngomong-ngomong tentang elep, elep punya kemampuan khusus lho! Yaitu
menaruh tas atau barang-barang di atas mobilnya. Ajaib kan?! Setelah itu aku
masuk kedalam elep dan duduk kursi kedua dari depan. Dan, “Sang Elep”-pun
berjalan.
Sampai
Malam
Aku duduk didepan bersama Ibnu, dan Faqih. Selama
diperjalanan si Emang menyetel lagu dangdut. Ada yang “goyang dua jari
(remix)”, “cover lagu: yongdong”,
“gara-gara fesbuk”, dll. Aku benci lagu-lagu itu. Singkat cerita MALAM-pun
tiba. Asli, aku gak nyangka perjalanannya bakal sampai malam. Awalnya elep
cuman berisi kami ber-tiga belas aja, kemudian elep-pun berisi menjadi ber-dua
puluh satu orang. Ini cerita yang insya Allah tidak akan aku lupakan. Pas itu
elep sudah penuh, dan ada seorang ibu duduk di kursi ketiga dari depan. Si ibu
itu awalnya ngasih tahu supaya agak kedepan karena-- tanpa aku sadari—aku
nyandar ke ibu. setelah beberapa kejadian yang sama--dan si ibu
menyuruhku supaya geseran kedepan—akhirnya si ibu bilang: “dek, bisa
tukeran? Ibu sebentar lagi turun dipertigaan”, aku lumayan ragu. Akhirnya aku
memutuskan untuk berpindah posisi. Jadi sekarang ibu didepan aku dibelakang.
Ternyata duduk di kursi ketiga dari depan gak enak, lututku ketekan sama kursi
kedua dari depan. Akhirnya aku maklum kenapa Ibu memintaku untuk berpindah,
karena begitu pegalnya duduk disini. Lama kemudian kaki-ku kesemutan. Dan lama
kemudian ibu itu turun. “alhamdulillah”, aku mencari suara teman yang bilang
begitu. Yang bilang gitu ibnu. Aku bingung kenapa ketika si ibu itu turun dua
orang temanku senang. Iya, senang itu wajar tapi senang yang ini tuh gak wajar.
Karena bingung aku tanyakan kepada Ibnu tapi dalam hati. Eh ternyata dijawab
sama Ibnu “tadi the kan si ibu bilang ke Salman untuk pindah soalnya sebentar
lagi turun dipertigaan” “tapi, pas yang di pertigaan pertama aku bilang dalam
hati ‘oh pertigaan yang ini’” “tapi pas dipertigaan itu si ibu gak turun”
“begitu juga pas di pertigaan kedua. Sama weh kayak begitu” “aku teh bilang
dalam hati ‘naha, si ibu gak
keluar-keluar?’” bilang dan tanya Ibnu. “mungkin menurut si ibu dekat kali”
jawabku.
Rumah
Mamah Kak Leni (baca: RKL)
Singkat cerita kami-pun sampai dirumah Mamah Kak Leni (baca:
RKL). Kami semua turun. Kemudian barang-barang kami diturunkan. Beberapa saat
kemudian kami udah siap dan—gak tau Kak Budi atau Kak Leni—meminta
nomor telepon si Emang dan perkenalan. Ternyata nama si Emang itu Iwan,
sebaiknya kalian yang se-muda aku sebut namanya: Mang Iwan. Kemudian kami
berjalan ke dalam RKL, salam dengan Mamah Kak Leni, masuk kedalam, menyimpan
tas diruang tengah, kemudian survey isi rumah. Kami survey sebuah kamar,
dikamar itu ada yang membuatku kaget: ada sebuah lukisan orang yang besar dan
menurutku menakutkan. Aku dan beberapa teman ketawa. Singkat cerita kami
disuruh ngumpul. “Anak-anak” kata Kak Budi, “sekarang pembagian kamar dulu”
maksudnya tempat untuk tidur. “Yang laki-laki tidur diruang tengah, sedangkan
yang perempuan tidur di kamar” maksud Kak Budi kamar yang ada lukisan seram.
Jadi tempat untuk tidur sudah dibagi menjadi dua bagian.
Perjalanan
ke Pamijahan
Kegiatan rutin kami bangun shubuh, sholat, ngaji, dan masak.
Itu kegiatan rutin kami sehari-hari. Tapi ditiap harinya pasti ada satu hal yang
beda. Yaitu: perjalanan. Perjalanan kami yang pertama akan pergi ke Pamijahan.
Rencananya berangkat jam 9:00 dan disana kami akan masuk ke guha Sapar Wadi.
Persiapanpun dilakukan. Trus aku dan Aji dipanggil sama Kak Leni. Kak Leni
bilang kita nyewa kolbak dari warga situ. Yang dipilih adalah bapak Marpudin
atau kami semua memangginya Mang Marpudin. Kemudian aku dan Fauzy pergi ke
rumahnya Mang Marpudin. Setelah sampai kami masuk dari pagar wuis! (Bukan
panjat pagar tapi buka pagarnya dan masuk). Ternyata, walaupun sudah diketuk
sampai lebih dari tiga kali Mang Marpudinnya gak ada. Aku bingung. Kami kembali
ke RKL dan bilang bahwa si Mang Marpudinnya gak ada. “Oh… yaudah nanti dicoba
lagi” kata Kak Leni. Beberapa lama kemudian setelah persiapan kami selesai aku
dan Fauzy disuruh sama gak tau Kak Budi atau Kak Leni untuk kembali lagi
kesana. Setelah kami sampai disana kami mengetuk kembali pintunya tapi tidak
ada siapa-siapa disana. Kemudian ada seorang bapak-bapak yang kebetulan lewat
menanyakan kami. “adek, mau kesiapa?” tanya bapak itu, “mau ke Mang Marpudin”
jawabku. “Mang Marpudinnya gak ada” si bapak memberitahu. Kemudian kami kembali
lagi ke rumah dan melaporkan kembali hal yang sama. Beberapa lama kemudian,
mendekati jam 9:00 aku dan Fauzy kembali dipanggil untuk kesana. “tapi Kak Leni
bisi Emangnya gak ada” keluhku. Kak
Leni diam, berpikir, dan menemukan jalan keluar. “ Man, pergi ke tetangganya
aja” “trus bilang bu atau pak…” Kak Leni bilang ke tetangganya trus nerangin
maksudnya dan minta tolong di hubungin. Singkat cerita kami sampai di
tetangganya kemudian salam dulu kemudian bilang gini: “Bu, kami teh mau ke Pamijahan, mau nyewa
kolbaknya Mang Marpudin, tapi Mang Marpudinnya gak ada, bisa dikontakkin?”
kurang lebih begitu. Terus si ibu ngontak Mang Marpudin dan singkat cerita
kolbaknya datang jam 9:00 nanti. Aku dan Fauzy kembali ke rumah dengan perasaan
senang. Terus melaporkan kepada Kak Leni. “Oh, udah kalau begitu” kata Kak
Leni. Tapi ada satu hal yang kami lupa: biaya. Karna itu, beberapa saat
kemudian kami kembali kesana. Kemudian kami mau bertanya kepada si ibu tapi aku
malu. Oh, aku lupa ceritain bahwa kami kesana sampai 3 kali (mungkin) makannya
aku jadi malu. Pokoknya Aku dan Fauzy gak jadi nanya. Aku bilang ke Kak Leni
bahwa aku malu soalnya sudah 3 kali kami kesana. Singkat cerita keadaan makin
genting karena hampir jam 9:00 masih belum datang juga. “Man, kapan kolbaknya
datang?” tanya Nasywa, bagian acara. “Eh… kayaknya bakal datang tapi akunya gak
tahu” jawabku agak gugup dan khawatir. Akhirnya si kolbak datang dan membuat
hatiku tenang. Singkat cerita kami naik kolbak.
The
Best Momentum
Selama di guha aku merasa senang. Biar aku jelasin, di guha
Sapar Wadi ini ada beberapa tempat yang diyakini “guha kopeah”, ”tempat mushola”,
”jalan menuju ke Mekkah”, “tempat mengajar”, dan masih banyak lagi. Di guha itu
ada tempat yang jika masuk ke tempat itu dia akan merasa panas. Perkataan ini
terbukti benar karena waktu itu aku masuk ke tempat itu dan disana aku merasa
panas, pengap, bahkan kacamataku sampai berkabut. Kenapa bisa begitu? Karena dibeberapa
tempat udaranya tipis. Terus ada bagian momentum yang lainnya. Keesokan harinya
kami semua berangkat ke pantai Karangtaulan. Disana, pemandangan Subhanallah,
disana banyak terumbu karang, rumput laut yang kebawa ke darat, pasir hitam,
dan pantai yang langsung lepas ke laut Samudra Hindia. Keesokkan harinya kami
ke pantai Sindangkerta. Disana juga Maha Suci Allah, ada dua air disitu air
tawar dan air laut. Kedua air ini tidak bercampur seperti yang dijelaskan oleh
Al-Qur’an. Kenapa bisa begitu? Karena kadar garamnya berbeda sehingga kedua air
itu tidak bercampur. Kemudian, kami pulang ke RKL, diperjalanan kami bermain
game yang bernama “Kae Bae Mok” permainan itu semacam permainan “Gunting kertas
Batu”. Kemudian sampai di RKL kami nonton TV. Ini juga The Best banget. Karena yang ditonton adalah aliran “Spacetoon”. Apakah
kalian tahu “Spacetoon”? itu adalah aliran TV yang membuka memori kami. Dan
dihari terakhirnya kami pergi ke Gunung Guntur. Disana pemandangannya telah
membayar kelelahan menempuh perjalanan. Dan ketika kami mau pulang kami makan
nasi goreng dulu. Dan yang paling Momentum adalah… pulang kembali ke Rumah
masing-masing.
Sekian dari saya wassalamualaikum
wr.wb.
