Magang EXTRA!


Assalamualaikum. Hari ini saya akan menceritakan kegiatan magang. Saya magang selama dua minggu di dua tempat. Yaitu tempat pembuatan tape dan pembuatan angklung. Mari kita mulai ceritanya.
Pabrik Tape
Waktu hari “apa” (aku lupa) kami dan fasilitator (baca: guru) berdiskusi mau naik apa ke tempat pabrik tape. Setelah diobrolkan kami memutuskan dihari pertama kami naik Grab mobil dan fasilitator kami menyuruh kami untuk menghafal jalannya. Aku agak sedikit grogi karena aku ini orangnya susah menghafal jalan. Pokoknya kami naik Grab. Oh iya, kami naik grabnya dipisah antara laki-laki dengan perempuan. Setelah pesan dan beberapa kali di “cancel” akhirnya ada juga yang mau mengantarkan kami. Ini dia part yang menarik.
Makasih Om!
Kan tadi sudah saya bilang kalau kami sudah di cancel beberapa kali oleh pengendara Grab mobil. Kenapa? Begini. Jadi rutenya melewatkan daerah cikadut, lewat jalan kuburan cina nanti sampai di daerah Panyandaan. KARENA salah satu rutenya melewati daerah cikadut yang dipinggirnya ada tukang ojek para supir Grab mobil jadinya tidak mau. Perlu diketahui bahwa daerah pangkalan ojeg cikadut itu “Zona Merah” bagi Grab baik mobil ataupun motor. Walaupun sudah tahu daerah pangkalan ojeg cikadut itu “Zona Merah” tapi satu supir Grab tetap menerimanya. Sebelum kami berangkat aku sempat kebingungan karena aku sama sekali tidak tahu arah jalannya, SAMA sekali tidak tahu arah jalannya. Mungkin Kak Leni tidak bilang jalannya atau akunya yang lupa. Alhamdulillah, Kak Leni datang dengan motor scoopy-nya dan kepala dan wajah yang ditutupi helm dan masker mengetuk kaca mobil yang dipaling depan. Hanya mau beritahu saja kalau aku duduk di paling depan supaya aku bisa menghafal jalan. Oke kembali ke cerita. Kak Leni memberitahu supir Grab untuk melewati jalan kuburan cina supir Grab menurutinya. Kemudian kami mulai berangkat. “ Ada kegiatan apa?” Tanya supir Grab (mudah-mudahan aku gak salah) “lagi ada kegiatan magang” jawabku dengan canggung. Ditengah perjalanan kami (aku dan teman-teman) bercerita berbagai macam mulai dari nama warteg sampai Grab yang sampai dibunuh. “teman kakakku pernah naik, Grab dia pinter lho” kata Ammar, “Dia waktu itu lewat Zona Merah terus si tukang ojek curiga. Dideketinlah si tukang Grab itu” “’Mau apa kamu kesini?’ Tanya si tukang ojeknya teh” “ si tukang Grabnya kayak yang bingung dan takut” lanjut Ammar “ si tukang Grabnya sudah mau disuruh turun tiba-tiba teman kakak aku itu bilang ‘ini mah paman saya” lanjut Ammar dengan air muka yang lucu-lucu gimana. “ dia teh bilang ‘ini mah paman saya’ terus ditanyain sama tukang ojeknya darimana pamannya” “dia teh bilang dari mana gitu” “terus dibolehin aja sama si tukang ojeknya” kata Ammar. Begitu kisah yang aku ingat dari semua pembicaraan yang dibicarakan. Kembali ke Om Grab. Jadi kami sudah beberapa meter dari ‘Zona Merah’ itu. Si supir Grab membuka kaca mobilnya (paling depan, kanan) sambil menyalakan rokok. Tangannya terjuntai keluar. Kami memasuki ‘Zona Merah’itu dengan berdebar ( Om-nya gak berdebar :p) dan kami selamat melewatinya. Hore terima kasih Om!

Serasa di Cina!
Kami melewati tempat kuburan cina. Disana banyak kuburan yang keren-keren. Aku merasa takjub (maklum. Akunya juga baru lihat). Aku mendengar cerita dari Faqih kalau mayatnya orang cina itu dibakar sampai menjadi abu trus abunya di kubur bersama kendaraanya. Ammar menambahkan “Katanya biar ke surganya naik mobil”. Kami melewati kuburan cina. Aku merasa sedang berada di Cina lagi memandang komplek-komplek yang ada di Cina. Naufan bilang “coba deh jangan lihat kebawah nanti ngerasanya kayak lagi berada di perkomplekkan”. Tak lama kemudian kami hamper sampai di tempat pembuatan tape. Kami membayar Supir Grab itu dan berjalan kaki ke tempat pembuatan tape yang jaraknya beberapa meter.
Belajar membuat Tape!
Oke, aku akan berhenti menyebutnya ‘Tape’, tapi aku akan menyebutnya ‘Peuyeum’. jadi kami semua sampai di tempat pembuatan peuyeum (baca: Pabrik). Kami juga sudah bersiap-siap membawa singkong. Sesampai ditempatnya kami salaman dengan ibu pemilik dagangannya. Kami istirahat sebentar dihalaman rumah ibu. Mungkin kalian kaget aku bilang di halaman rumah ibu. Aku menyebutnya begitu karena tempat pembuatan peuyeumnya ada disini jadi sebut saja pabrik kecil-kecilan. Singkat cerita kami ke tempat pembuatannya. Kami awalnya memperhatikan dulu. Kemudian kami mulai mencoba. Alhamdulillah aku masih ingat caranya. Bagaimana? Begini:
Cara Membuat:
Alat-alat yang perlu kalian siapkan:
·         Golok atau Pisau
·         Penyerut wortel
·         Tali rapia
·         Keranjang rotan
·         Daun pisang
·         Kertas Koran
Bahan-bahan yang kalian perlukan:
·         Singkong
·         Ragi peuyeum ( ibunya pake yang merk LBC)
Cara membuatnya:
Kupas kulit singkong dengan pisau/golok. Kemudian serut luar singkong dengan penyerut wortel. Setelah diserut cuci singkong hingga bersih. Kemudian rebus singkong selama 20 menit (kalau sedikit). Setelah direbus saring dan diamkan selama beberapa saat.
Ragi:
Raginya dituang ke wadah. Kemudian ulek ragi hingga halus. setelah halus ragi siap di pakai
Singkong:
Setelah dingin singkongnya taburkan dan gosok singkong hingga ragi merata. Setelah semua singkong di beri ragi siapkan keranjang rotan. Lapisi keranjang rotan dengan kertas Koran. Kemudian lapis lagi dengan daun pisang. Setelah itu masukan peuyeum dengan rapih. Kemudian tutup dengan kertas Koran lalu ikat dengan tali rapia. Tunggu selama 2 hari satu malam. Semoga berhasil! J
Kegiatan yang seru buanget!
Ada kegiatan yang menyenangkan. Pertama aku mengangkat karung yang isinya singkong yang sudah di kuliti. Sambil ngangkat karung aku berlomba dengan Fauzi, Caca, dan Ammar. Pokoknya menyenangkan. Terus kegiatan yang kedua. Aku dan teman-teman membantu menyerut kulit singkong dengan penyerut wortel. Saya dan teman-teman tidak hanya menyerut  tapi juga ngobrol dengan teman-teman. Ibaratnya jika kami ngobrol kami seperti kereta yang relnya suka tiba-tiba berpindah. Kalau suasana sunyi pasti ada yang meramaikan. Begitulah kami. Upgrade yang  Brutal.
Gitu-gitu aja…
Memang sih cuman gitu-gitu aja. Tapi aku merasa puas karena bisa membantu banyak. Oh iya di hari pertama kami langsung selesai membuat tapenya lho.
Tolong! Aku Nyasar!
Maaf kalau cerita ini ditengah-tengah, tapi cerita ini adalah momen yang tidak bisa aku lupakan. Jadi kan aku sudah bilang kalau di hari pertama (senin) harus menghafal jalannya. Alhamdulillah aku ingat sehingga bisa sampai. Tapi aku hanya ingat setengah perjalanan yaitu dari cikadut-ditengah kuburan cina. Saat sampai di kuburan cina aku langsung tegang, keringat dingin keluar, dan mungkin mataku melotot karena takut salah. Ya… tapi sekali lagi Alhamdulillah aku dan ayah selamat sampai tujuan.
Biodata
Data yang saya dapatkan selama seminggu ini:
Nama ibu: Ratinah
Nama bapak: Atam
Nama pabrik: Rizky Barokah
Pabrik bekerja dari: tahun 1992 – sekarang.
Kesulitan dari pekerjaan: pesanan banyak tapi singkongnya sedikit. panas kalau ke kebun, kalau hujan kebasahan.
Solusi dari kesulitan: kata ibu “ sabar, menjalankan bisnis itu ada keuntungan dan kerugian juga” kata ibu “rezeki mah Allah yang ngatur” kata ibu “ kalau ke kebun hujan kan bisa di akalin dengan tenda kan?”
Alamat lokasi:
Kabupaten Bandung, Kecamatan Cimenyan, Desa Mandala Mekar, RW 07, RW 03 No.60
Makan jum’at
Akhinya hari jum’at juga. Waktunya kami pulang ke rumah masing-masing. Ups! Ada yang aku lupa nih! Jadi pas hari Jum’at kami sholat di kompleknya bapak setelah selesai sholat jum’at semua yang ada di masjid boleh mendapatkan makanan yang telah disuguhi oleh ibu-ibu. Karena itu aku jadi ingat masjid yang berada di komplekku sendiri. Di Masjid komplekku juga disuguhi makanan, dan kopi. Tapi, kalau mau makanan kamu harus kedalam Masjid bertemu bapak-bapak yang berbincang. Mungkin kalian bisa mengambilnya, tapi kalau saya malu.
Terima kasih…
Terima kasih kepada bapak Atam dan Ibu Ratinah yang telah memberikan kami ilmu. Terima kasih kepada aa risky (semoga saya tidak salah) yang telah mengantarkan kami pulang dari pabrik tape selama seminggu ini. Mohon maaf sebanyak-banyaknya untuk semuanya karena kami kurang membantu selama disana. Mohon maaf sebanyak-banyaknya untuk semuanya atas segala kesalahan saya. Semoga ilmu ini bermanfaat, jangan sampai hilang. Terima kasih kepada bapak dan ibu. Kami minta maaf dan pamit (hari jum’at) assalamualaikum.
Pengrajin angklung
Di minggu kedua ini, aku akan magang di daerah yang sama ditempat yang beda yaitu tempat pengrajin angklung. Karena didaerah yang sama, kami jadi gampang mencari jalannya. Kalau kemarin lokasinya di RW 07 sekarang kami akan magang di RW 08. Singkat cerita setelah aku siap aku berangkat ketujuan.
Jangan nipu, ayah!!
Waktu itu kami (ayah dan salman) sedang berada diperjalanan. Yang aku tahu jalannya dari akhir kuburan cina kan ada komplek. Disitu komplek teman sekolahan aku namanya Abdullah. Pas sampai di akhir dari kuburan cina kami melewati jalan ke komplek itu. Akunya jadi bingung karena ayahku jalannya lurus terus. Ada dialog antara saya (weis! Jadi ‘saya’) dan ayah. “ayah… kita mau kemana?” tanyaku. Aku bertanya karena ayah melewati komplek itu. “ini jalan yang betul kan?” Tanya ayahku balik. “ayah, kelewatan” kataku terbata-bata “lho bukan jalan yang ini?” Tanya ayahku. Ayahku bertanya begitu tapi tidak memutar balik motornya, tapi aku mikirnya ayah mau memastikan kalau ini salah jalan. Karena itu aku menjawab “iya yah, salah jalan” jawabku ragu dan terbata-bata. Eh, gak taunya ayah tetap lurus dan sampai di RW 07. “tuh kan! Aku juga tahu kalau ayah tahu!” kataku dengan riang, akunya sotoy amat ya? tadi bilang salah jalan sekarang bilang udah betul jalannya. Tapi, sudahlah lupakan saja, yang penting aku sampai. Saat hampir sampai aku melihat temanku Nashwa (semoga betul penulisannya) sedang berjalan ke tempat tujuan. Aku langsung tahu kalau aku sudah sampe. Kami berhenti dan ayah aku pulang. Aku melihat ada kumpulan temanku yang sedang mengobrol dengan temanku lainnya disebuah warung.setelah kak Budi melihat kami sudah komplit, kak Budi berterima kasih kepada pemilik warung dan menyuruh (mungkin lebih tepatnya ‘mengajak’) kami untuk melanjutkan perjalanan. Akhirnya kami sampai juga ditempat pengrajin angklung.
Di hari pertama di minggu kedua
Kami mengucapkan salam kepada bapak tapiaduh, gak sopannya akukami belum salim. Akhirnya kami diingatkan dan kami salim ke bapak itu. Waktu briefing bapak itu memperkenalkan dirinya “nama saya Maman” kata pak Maman. Aku agak terkejut karena aku punya game yang bisa diisi nama dan aku mengisinya ‘Maman’. Namanya sama seperti nama bapak yang berada dihadapanku sekarang. Singkat cerita kami berkenalan dengan bapak dan memulai aktivitas.
Jenis angklung
Pak Maman menjelaskan jenis jenis angklung. Aku baru tahu kalau angklung itu ada jenisnya. Oke, jenisnya ada tiga yang pertama, angklung sarinande. Angklung sarinande ini adalah angklung yang biasa dimainkan oleh kita. Yang kedua, angklung melody. Angklung melody melody ini nadanya lebih banyak, misalnya ada nada setengah. Nada setengah itu seperti apa sih? Sebelum anda mengetahui nada setengah anda harus tahu dulu tangga nada. Apa itu tangga nada? Tangga nada itu yang seperti:” do, re, mi, fa, so, la, si, do” itu tangga nada. Sekarang tangga nadanya dirubah menjadi huruf. D, E, F, G, H, A, B, C, D. nah begitu jadinya kalau dirubah menjadi huruf. Nada setengah itu kayak gini: D, Dis, E, F, Fis, G, H, A, Ais, B, C, Cis, D. ada beberapa nada setengah yang aku lupa, jadi mohon maaf. Kemudian jenis angklung yang ketiga, salendro. Salendro adalah angklung ketuk, jadi maksudnya cara mainnya diketuk. Nadanya da, mi, na, ti, la, da bukannya do, re, mi, fa, so, la, si, do. Salendro adalah angkung favorit saya selama seminggu ini.
Cara membuat Angklung
Alat-alat yang perlu disiapkan:
·         Golok
·         Gergaji
·         Meteran
·         Pensil
·         Tes Nada (Pak Maman pake yang merk joyo)
Bahan-bahan yang perlu disiapkan:
·         Bambu

Saya perlu memberi tahu. Cara pembuatan ini masih tidak lengkap. Hanya yang kami lihat dan ini berbahaya. Jadi kalau mau melihat tutorial yang lebih lengkap silahkan cari di intrnet saja.
Jadi yang kami membuat jejer, tabung, gantungan, dan tempat penyimpanan angklung.
Panyandaan
Ternyata, selama di tempat pabrik angklung ini tidak hanya belajar angklung juga tapi kami juga belajar tentang asal usul payandaan. Kenapa dari RW 05 sampai RW 08 disebut daerah panyandaan? Begini, jadi kalau ada orang yang dari Barat ke Timur pasti beristirahatnya di panyandaan yang ditandai Makam begitu juga orang yang dari Timur mau ke Barat pasti beristirahat disitu. Makannya daerah ini disebut Panyandaan.
Ruwatan
Di hari yang keberapa aku mendengar seperti ada suara lagu sunda. Seseorang bertanya kepada bapak atau bapak yang menjelaskan ya? pokoknya kami dikasih tahu kalau acara ruwatan itu memiliki makna. Misalnya katel baru yang digatung di panggung bukan katel bekas. Kenapa bukan katel bekas? Makna dari katel baru itu bahwa di bulan yang akan datang pasti orang pingin sesuatu yang baru. Sebenarnya gak cuman katel saja yang ada di Ruwatan tapi masih banyak lagi. Namun, mohon maaf aku lupa makna dari yang lain.
Terima kasih Pak Maman
Terimakasih kepada pak maman sebanyak-banyaknya yang telah mengajarkan kami untuk bersabar dan tekun disetiap kegiatannya. Terima kasih pak Maman kami pamit dulu, semoga ilmu yang diberikan kepada kami bermanfaat.