Kampung Dukuh? memangnya ada Dukuh?


Assalamualaikum. Halo pembaca! Bagaimana kabarnya? Semoga pembaca sedang sehat ya amin. Jadi hari ini saya akan membahas tentang Kampung Dukuh, tempat yang saya kunjungi nanti saat saya sedang adventure. Oke, tak perlu basa-basi lagi mari kita next!
Sejarah Kampung Dukuh
Jadi kampung dukuh itu tercipta oleh Syekh Abdul Jalil. Jadi sebelum Kampung Dukuh ada Syaikh Abdul Jalil masih tinggal di Sumedang pada Abad ke 17. Jadi kalau ada yang nanya Syekh Abdul Jalil masih hidup? Jawabannya enggak. Kembali ke cerita, jadi pada saat itu Syekh Abdul (disingkat namanya) diminta Bupati Sumedang untuk menjadi kepala agama. Pemberitahuan, bupatinya dulu itu Rangga Gompol II. Pemilihan kepala agama itu adalah usul dari kerajaan mataram. Syekh Abdul mau diangkat menjadi kepala agama tapi Syekh Abdul mengajukkan dua syarat. Syarat yang pertama, jangan melanggar hukum agama (seperti membunuh, mencuri, dsb). Syarat kedua, rakyat dan pemimpin/bupati harus bersatu. Jika syarat itu dilanggar satu maupun dua-duanya Syeikh Abdul akan mengundurkan diri dari jabatannya. Dua belas tahun kemudian terjadi pembunuhan. Pembunuhan itu terjadi oleh bupati Rangga Gompol II kepada utusan dari kerajaan Banten. Rangga Gempol II tidak mau tunduk kepada keajaan Banten, bukan kepada Mataram. Saat kejadian itu syekh Abdul sedang ada di Mekkah. Sepulangnya dari Mekkah Syekh Abdul kecewa karena persyaratan itu dilanggar. Akhirnya Syekh Abdul turun dari jabatannya dan pergi dari Sumedang ke Batuwangi dan menetap selama tiga setengah tahun. Kemudian Syekh Abdul melanjutkan perjalanan ke selatan dan tinggal di daerah yang bernama Tonjong selama satu setengah tahun. Setiap tempat yang disinggahi atau dilewatinya Syekh Abdul selalu bertafakur kepada Allah supaya diberikan tempat yang cocok untuk mengajarkan agamanya dengan tenang. Pada saat bertafakur ada sebuah cahaya sebesar pohon aren seperti menunjukkan arah. Syekh Abdul mengikuti cahaya tersebut. Cahaya tersebut hilang diantara sungai Cimangke dan Cipasarangan. Ternyata ditempat itu dihuni oleh pakebon dan nikebon. Hmm… namanya kocak? Kembali kecerita, mereka berdua bernama Aki dan Nini Candradiwangsa. Aki dan Nini Candra menyerahkan tanah itu kepada Syekh Abdul Jalil dan mereka berdua pulang kerumah. Sepeninggalan nini dan aki Syekh Abdul tinggal disana dan menyebarkan pengetahuan agama yang dia miliki. Dan berdirilah Kampung Dukuh. (sumber dari: Wikipedia)
Pekerjaan di Kampung Dukuh
Pekerjaan mereka menjadi petani. Ada dua macam petani disana yaitu petani yaitu model dengan lahan basah atau sawah dan model dengan lahan kering (menghuma atau berladang). Bertani model lahan basah biasanya didekat sungai dan jumlahnya sedikit sedangkan yang menggunakan model lahan kering banyak dan luas. Kenapa banyak yang pakai? Karena lahannya besar untuk meladang dan bertani. (sumber dari: Wikipedia)
Mungkin ini informasi yang bisa saya dapat. Tapi ini baru informasi. Nanti kelas kami akan mengadakan adventure ke Tasik. Salah satu rencananya bakal ke Kampung Dukuh. Nanti Baca ya!