Saya mendapatkan tugas dari kak budi sepert tulisan yang ada
di judul. Semoga kalian menikmati ceritanya!
“Uha Juhari tinggal disana (sumedang). Bapak Uha Juhari
membeli tanah bekas galian. Lho… kenapa
tiba-tiba jadi ke tanah bekas galian? Oh.. anda belum tahu ya? Jadi di
Sumedang itu ada semacam mmm… gini deh ada orang disana melakukan proyek
penggalian pasir dan itu merugikan penduduk. Penduduk disana susah mendapatkan
air, para petani mengeluh karena jadi berkurang hasil garapannya. Hmm.. jadi penggaliaan pasir disana
merugikan penduduk dong? betul. Penggalian tanah sebenarnya sudah dihentikan
oleh pemkab tahun 2006, tapi diizinkan kembali oleh pemkab pada tahun 2009. Segitu
saja informasi yang saya tahu. Kembali ke topik utama. Bapak Uha Juhari membeli
bekas tanah galian itu seharga 1000 rp (gak tahu jaman dulu atau sekarang) dulu
orang-orang bilang bahwa beli tanah bekas galian itu percuma (gak ada guna)
Bapak Uha Juhari dianggap kurang waras oleh orang dulu. Singkat cerita tanah
bekas galian itu berubah menjadi kebun. Bapak Uha Juhari mendapatkan
penghargaan dari pemerintah (dan ada lagi tapi saya lupa lagi).Sujana Kosim
waktu itu sedang bekerja di Malaysia (maaf, ini waktu sebelum tanah bekas
galian berubah menjadi kebun) dipanggil pulang ke Sumedang. Bapak Sujana Kosim
pulang kembali ke Sumedang. Bapak kosim melihat tempatnya banyak bekas galian. Berdua
dengan bapak Uhu Juhari mereka berusaha mengembalikan tanah bekas galian itu
menjadi kebun dan hasil kerja keras mereka sukses. Lalu apa hubungannya dengan gunung tampomas? Hmm… menurutku
hubungannya dengan tampomas jadi kembali sebagian tumbuhannya. Mereka pasti
mengucapkan terimakasih kepada bapak Uhu Juhari dan bapak Sujana Kosim. Terima kasih
ya pak!”
Nah, bagaimana? Apakah kalian menikmati ceritanya? Terimakasih
dadah! 😄